Sunday, September 25, 2016

Wahabi Diciptakan Abdul Wahab bin Rustum Hanyalah Dongeng Yang Dipopulerkan

Wahabi Diciptakan Abdul Wahab bin Rustum Hanyalah Dongeng Yang Dipopulerkan

Dongeng ini sangat populer di kalangan Salafi-Wahabi, padahal cerita ini adalah fiktif belaka dan tidak lebih dari hanya sebuah dongeng semata, tapi aneh nya dongeng ini bukan saja di sukai oleh anak-anak, tapi justru sangat popular dan di sukai oleh Ustadz atau Syekh Salafi-Wahabi, Cuma saja dongeng ini beredar dengan beragam judul, dikalangan Salafi-Wahabi lebih sering didongengkan dengan judul “Siapakah Wahabi sesungguhnya ?” dan “Inilah Wahabi Sesungguhnya” dan bahkan karena terlalu terbawa dan percaya dengan dongeng populer wahhabiyyah Rustumiyyah ini, tanpa mencari tau kebenaran nya, sebagian orang menyangka cerita fiktif tersebut adalah sebuah kenyataan, meskipun tidak bisa membuktikan kebenaran cerita nya, karena kebiasaan para pengikut mereka yang hanya bisa membaca tapi tidak mencari Fakta yang mengerikan, hanya bisa mendengar tak bisa berkomentar, sehingga dongeng tersebut terus disebarkan oleh orang-orang yang tidak punya malu dan tanggung jawab (semoga Allah membalas nya dengan balasan yang setimpal).

Dongeng Populer Wahhabiyyah Rustumiyyah ini menceritakan tentang ajaran seorang yang bernama Abdul Wahhab bin Abdirrahman bin Rustum [208 H/823 M] atau konon disebut dengan nama Wahhabi, dan di akhir cerita di vonis sesat oleh seorang Ulama bernama Al-Lakhmi atau nama lengkap Ali bin Muhammad Al-Lakhmi [478 H/1085 M], adapun bila ada kesamaan nama atau sebutan dalam dongen tersebut hanyalah sebuah kebetulan atau memang ada misi dibalik nama-nama tersebut, namun nama-nama dan sebutan dalam dongeng populer ini tidak ada hubungan dengan Salafi-Wahabi dengan bermacam varian nya, yang juga difatwakan sesat oleh Ulama Ahlus Sunnah Waljama’ah seluruh dunia, karena Wahabi yang difatwakan sesat oleh Ulama Ahlus Sunnah sedunia adalah ajaran Syekh Muhammad bin Abdil Wahhab At-Tamimi An-Najdi [1206 H/1791M], sekali lagi bahwa Wahabi dalam dongeng tersebut tidak ada hubungan apa pun dengan Wahabi yang beredar disekeliling kita sekarang ini atau yang sering menyebut diri nya Salafi, meri kita ikuti dongeng populer ini sampai akhir, agar generasi kita tidak termakan oleh sebuah dongeng atau cerita yang tidak bisa dibuktikan kebenaran nya (semoga Allah menjaga kita semua dari fitnah Agama ini).

Begini Cerita nya !  Dongeng ini kami copas dari situs Syekh Salafi-Wahabi, tapi ingat ini hanya sebuah dongeng ! harap baca sampai tuntas, agar tidak salah paham

Wahabi Diciptakan Abdul Wahab bin Rustum Hanyalah Dongeng Yang Dipopulerkan
Dongeng Wahhabiyyah Rustumiyyah
    (awal dongeng)– Cerita ini berawal dari dialog antara Syaikh Muhammad bin Sa’ad Asy Syuwai’ir dengan para masyaikh/dosen-dosen disuatu Universitas Islam di Maroko (tidak jelas Universitasnya).

Salah seorang Dosen itu berkata: ”Sungguh hati kami sangat mencintai Kerajaan Saudi Arabia, demikian pula dengan jiwa-jiwa dan hati-hati kaum muslimin sangat condong kepadanya,dimana setiap kaum muslimin sangat ingin pergi kesana, bahkan antara kami dengan kalian sangat dekat jaraknya. Namun sayang, kalian berada diatas suatu Madzhab, yang kalau kalian tinggalkan tentu akan lebih baik, yaitu Madzhab Wahabi.”

Kemudian Asy Syaikh dengan tenangnya menjawab: ”Sungguh banyak pengetahuan yang keliru yang melekat dalam pikiran manusia, yang mana pengetahuan tersebut bukan diambil dari sumber-sumber yang terpercaya, dan mungkin kalian pun mendapat khabar-khabar yang tidak tepat dalam hal ini.

Baiklah, agar pemahaman kita bersatu, maka saya minta kepada kalian dalam diskusi ini agar mengeluarkan argumen-argumen yang diambil dari sumber-sumber yang terpercaya,dan saya rasa di Universitas ini terdapat Perpustakaan yang menyediakan kitab-kitab sejarah islam terpercaya .Dan juga hendaknya kita semaksimal mungkin untuk menjauhi sifat Fanatisme dan Emosional.”

Dosen itu berkata : ”saya setuju denganmu, dan biarkanlah para Masyaikh yang ada dihadapan kita menjadi saksi dan hakim diantara kita.

Asy Syaikh berkata : ”saya terima, Setelah bertawakal kepada Allah, saya persilahkan kepada anda untuk melontarkan masalah sebagai pembuka diskusi kita ini.”

Dosen itu pun berkata :”baiklah kita ambil satu contoh, ada sebuah fatwa yang menyatakan bahwa firqoh wahabi adalah Firqoh yang sesat. Disebutkan dalam kitab Al-Mi ’yar yang ditulis oleh Al Imam Al-Wansyarisi, beliau menyebutkan bahwa Al-Imam Al-Lakhmi pernah ditanya tentang suatu negeri yang disitu orang-orang Wahabiyyun membangun sebuah masjid,”Bolehkan kita Sholat di Masiid yang dibangun olehorang-orang wahabi itu ??”maka Imam Al-Lakhmi pun menjawab:”Firqoh Wahabiyyah adalah firqoh yang sesat, yang masjidnya wajib untuk dihancurkan, karena mereka telah menyelisihi kepada jalannya kaum mu ’minin, dan telah membuat bid’ah yang sesat dan wajib bagi kaum muslimin untuk mengusir mereka dari negeri-negeri kaum muslimin ”.
Dosen itu berkata lagi :”Saya rasa kita sudah sepakat akan hal ini, bahwa tindakan kalian adalah salah selama ini,”

Kemudian Asy Syaikh menjawab : ”Tunggu dulu..!! kita belum sepakat, lagipula diskusi kita ini baru dimulai, dan perlu anda ketahui bahwasannya sangat banyak fatwa yang seperti ini yang dikeluarkan oleh para ulama sebelum dan sesudah Al-Lakhmi, untuk itu tolong anda sebutkan terlebih dahulu kitab yang menjadi rujukan kalian itu !”
Dosen itu berkata: ”anda ingin saya membacakannya dari fatwanya saja, atau saya mulai dari sampulnya ??”

Asy Syaikh menjawab:”dari sampul luarnya saja.”
Dosen itu kemudian mengambil kitabnya dan membacakannya: ”Namanya adalah Kitab Al-Mi’yar,yang dikarang oleh Ahmad bin Muhammad Al-Wansyarisi. Wafat pada tahun 914 H dikota Fas, di Maroko.”

Kemudian Asy Syaikh berkata kepada salah seorang penulis di sebelahnya:”wahai syaikh, tolong catat baik- baik, bahwa Imam Al-Wansyarisi wafat pada tahun 914 H. Kemudian bisakah anda menghadirkan biografi Imam Al- Lakhmi ??”
Dosen itu berkata:”Ya,”kemudian dia berdiri menuju salah satu rak perpustakaan, lalu dia membawakan satu juz dari salah satu kitab-kitab yang mengumpulkan biografi ulama. Didalam kitab tersebut terdapat biografi Ali bin Muhammad Al-Lakhmi, seorang Mufti Andalusia dan Afrika Utara.

Kemudian Asy Syaikh berkata : ”Kapan beliau wafat?”
Yang membaca kitab menjawab: ”beliau wafat pada tahun 478 H”
Asy Syaikh berkata kepada seorang penulis tadi: ”wahai syaikh tolong dicatat tahun wafatnya Syaikh Al-Lakhmi ” kemudian ditulis.

Lalu dengan tegasnya Asy Syaikh berkata : ”Wahai para masyaikh….!!! Saya ingin bertanya kepada antum semua …!!! Apakah mungkin ada ulama yang memfatwakan tentang kesesatan suatu kelompok yang belum datang (lahir) ???? kecuali kalau dapat wahyu????”

Mereka semua menjawab :”Tentu tidak mungkin, Tolong perjelas lagi maksud anda !”
Asy syaikh berkata lagi : ”bukankah wahabi yang kalian anggap sesat itu adalah dakwahnya yang dibawa dan dibangun oleh Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahhab ????
Mereka berkata : ”Siapa lagi???”

Asy Syaikh berkata:”Coba tolong perhatikan..!!! Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab lahir pada tahun 1115 H dan wafat pada tahun 1206 H, …
Nah,ketika Al-Imam Al-Lakhmi berfatwa seperi itu, jauh RATUSAN TAHUN lamanya syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab belum lahir. bahkan sampai 22 generasi keatas dari beliau sama belum yang lahir.apalagi berdakwah..

KAIF ??? GIMANA INI???
(Merekapun terdiam beberapa saat..)
Kemudian mereka berkata:”Lalu sebenarnya siapa yang dimaksud Wahabi oleh Imam Al-Lakhmi tersebut ??” mohon dielaskan dengan dalil yang memuaskan, kami ingin mengetahui yang sebenarnya !”
Asy Syaikh pun menjawab dengan tenang : ”Apakah anda memiliki kitab Al-Firaq Fii Syimal Afriqiya, yang ditulis oleh Al-Faradbil, seorang kebangsaan Francis ?”
Dosen itu berkata:”Ya ini ada,”
Asy Syaikh pun berkata :”Coba tolong buka di huruf “ wau” ..maka dibukalah huruf tersebut dan munculah sebuah judul yang tertulis “ Wahabiyyah”
Kemudian Asy Syaikh menyuruh kepada Dosen itu untuk membacakan tentang biografi firqoh wahabiyyah itu.

Dosen itu pun membacakannya: ”Wahabi atau Wahabiyyah adalah sebuah sekte KHOWARIJ ABADHIYYAH yang dicetuskan oleh Abdul Wahhab bin Abdirrahman bin Rustum Al-Khoriji Al- Abadhi, Orang ini telah banyak menghapus Syari’at Islam, dia menghapus kewajiban menunaikan ibadah haji dan telah terjadi peperangan antara dia dengan beberapa orang yang menentangnya. Dia wafat pada tahun 197 H dikota Thorat di Afrika Utara. Penulis mengatakan bahwa firqoh ini dinamai dengan nama pendirinya, dikarenakan memunculkan banyak perubahan dan dan keyakinan dalam madzhabnya. Mereka sangat membenci Ahlussunnah.

Setelah Dosen itu membacakan kitabnya Asy Syaikh berkata : ”Inilah Wahabi yang dimaksud oleh imam Al-Lakhmi, inilah wahabi yang telah memecah belah kaum muslimin dan merekalah yang difatwakan oleh para ulama Andalusia dan Afrika Utara sebagaimana yang telah kalian dapati sendiri dari kitab-kitab yang kalian miliki. Adapun Dakwah yang dibawa oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab yang didukung oleh Al-Imam Muhammad bin Su’ud-Rahimuhumallah-, maka dia bertentangan dengan amalan dakwah Khowarij, karena dakwah beliau ini tegak diatas kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam yang shahih, dan beliau menjauhkan semua yang bertentangan dengan keduanya, mereka mendakwahkah tauhid, melarang berbuat syirik, mengajak umat kepada Sunnah dan menjauhinya kepada bid ’ah, dan ini merupakan Manhaj Dakwahnya para Nabi dan Rasul. (akhir dongeng)

Itulah dongeng lengkap yang sering diceritakan oleh para Syekh Salafi-Wahabi kepada pengikut setia mereka, hati-hati jangan terjebak oleh dongeng ini …..!!!

BENARKAH CERITA ITU SEBUAH DONGENG ?
Dalam dongeng populer itu menceritakan bahwa ajaran Abdul Wahhab bin Abdirrahman bin Rustum bernama Wahhabiyah nisbah kepada nama Abdul Wahhab, ternyata ajaran yang disebarkan oleh Abdul Wahhab bin Abdirrahman bin Rustum itu bukan Wahhabiyyah ( الوهابيه ) tapi Wahbiyyah ( الوهبية ), lalu kenapa juga ajaran nya disebut Wahbiyyah ? apakah Wahbiyyah itu nisbah kepada Abdul Wahhab bin Abdirrahman bin Rustum ? nah tentu saja bukan karena ajaran Wahbiyyah tersebut adalah nisbah kepada Abdullah bin Wahbi Ar-Rasibi (38 H) [عبد الله بن وهب الراسبي] [Lihat Al-Firaq Fii Syimal Afriqiya- halaman 145], lalu pecah kepada beberapa firqah, nah firqah nya Abdul wahhab bin Abdirrahman bin Rustum di sebut Wahbiyyah Rustumiyyah (bukan Wahhabiyyah Rustumiyyah), bahkan dalam kitab yang tersebut di atas (rujukan dalam dongeng) sangat jelas bahwa Al-Lakhmi di tanyakan tentang kaum Wahbiyyah, bukan tentang Wahhabiyyah, tetapi dalam dongeng disebutkan bahwa Al-Lakhmi ditanyakan tentang Wahhabiyyah, ini jelas-jelas tipuan dan pembodohan, simak penjelasan berikut ini :
Dalam kitab Tarikh Ibnu Khaldun juzuk II halaman 98, beliau berkata :

وكان يزيد قد أذل الخوارج ومهد البلاد فكانت ساكنة أيام روح ورغب في موادعة عبد الوهاب بن رستم وكان من الوهبية فوادعه
Perhatikan dari teks di atas : (ﻭﻛﺎﻥ ﻣﻦ ﺍﻟﻮﻫﺒﻴﺔ) dan adalah Abdul Wahhab bin Rustum sebagian dari “Wahbiyyah”
Maksudnya, Abdul Wahhab bin Abdirrahman bin Rustum adalah pengikut Wahbiyyah bukan Wahhabiyyah, dan juga bukan pendiri Wahbiyyah sehingga ada anggapan bahwa ajaran nya bernama Wahhabiyyah nisbah kepada nama nya Abdul Wahhab, sunnguh anggapan yang sangat keliru, perbedaan antara Wahbiyyah dan Wahhabiyyah bagaikan langit dan bumi, baik dari penulisan atau bacaan nya, atau pun pada nisbah dan ajaran nya, tapi kemiripan penulisan tulisan dan bacaan nya membantu para Syekh Salafi-Wahabi untuk menipu para simpatisan mereka, maka tertipulah orang-orang yang hanya bisa melihat tapi tak mau berpikir. (na’uzubillah)

Bahkan dalam Al-Mi’yaar al-Mu’rib wa al-Jaami’ al-Mughrib ‘an Fataawaa Ifriiqiyyah wa al-Andalus wa al-Maghrib juzuk 11 halaman 168 di tulis oleh Ahmad bin Yahya Al-Wansyarisi (sebagaimana rujukan dalam dongeng di atas)

وسئل اللخمي عن قوم من الوهبية سكنوا بين أظهر أهل السنة زمانا وأظهروا الآن مذهبهم وبنوا مسجدا ويجتمعون فيه ويظهرون مذهبهم في بلد فيه مسجد مبني لأهل السنة زمانا ، وأظهروا أنه مذهبهم وبنوا مسجدا يجتمعون فيه ويأتي الغرباء من كل جهة كالخمسين والستين ، ويقيمون عندهم ، ويعملون لهم بالضيافات ، وينفردون بالأعياد بوضع قريب من أهل السنة . فهل لمن بسط الله يده في الأرض الإنكار عليهم ، وضربهم وسجنهم حتى يتوبوا من ذلك ؟
Perhatikan dari teks di atas : (ﻭﺳﺌﻞ ﺍﻟﻠﺨﻤﻲ ﻋﻦ ﻗﻮﻡ ﻣﻦ ﺍﻟﻮﻫﺒﻴﺔ) “Dan Al-Lakhmi ditanyakan tentang satu kaum dari Wahbiyyah”
Maksudnya, Imam Al-Lakhmi ditanyakan tentang satu firqah dari Wahbiyyah, sementara dalam dongeng di atas disebutkan Al-Lakhmi ditanyakan tentang firqah Wahhabiyyah, sangat jelas ini tipuan belaka, Wahhabiyyah dalam penulisan bahasa Arab ber-tasydid pada (Ha) dan ada (Alif) di depan (Ha), sementara Wahbiyyah tulisan nya tidak ber-tasydid pada (Ha) dan tidak ada (Alif) di depan (Ha), maka fatwa Al-Lakhmi bukan tentang faham Wahhabiyyah, tapi tentang firqah Wahbiyyah, dan tidak ada hubungan antara Wahhabiyyah dan Wahbiyyah Rustumiyyah ibadhiyyah.
Dan dalam buku seorang sejarawan asal  Prancis, sebagaimana rujukan dalam dongeng itu pula, yaitu Al-Firaq Fii Syimal Afriqiya, yang ditulis oleh Al-Faradbil [1364 H/1945 M], lihatlah penyimpangan cerita itu dengan apa yang tersebut dalam buku rujukan nya, ini tulisan Al-Faradbil dalam buku nya :

وقد سموا أيضا الوهبيين نسبة إلى عبد الله بن وهب الراسبي ، زعيم الخوارج
“Dan sungguh mereka dinamakan Wahbiyyin (الوهبيين) karena dinisbahkan kepada Abdullah bin Wahbi Ar-Rasibi, yang di tuduh sebagai Khawarij” [Al-Firaq Fii Syimal Afriqiya– halaman 145].

Ternyata dalam buku Al-Faradbil juga tertulis Wahbiyyin, bukan Wahhabiyyin, dan dengan sharih disebutkan nisbah nya, Wahbiyyah atau Wahbiyyin bukan nisbah kepada Abdul Wahhab bin Abdirrahman bin Rustum sebagaimana dalam dongeng di atas, akan tetapi Wahbiyyah itu nisbah kepada Abdullah bin Wahbi Ar-Rasibi.

Semakin terang benderang upaya makar para syekh Salafi-Wahabi hendak memutar balikkan fakta, sungguh tipuan yang hampir sempurna, banyak trik yang telah mereka susupi dalam kitab, buku, situs dan blog mereka, dan para pengikut mereka tidak pernah mempertanyakan atau membuktikan kebenaran nya, sikap para pengikut mereka yang hanya bisa taqlid buta, semakin mendukung para syekh akan terus mempertahankan taktik ini, (semoga membuka mata para pecinta dongeng itu).
Dan perhatikan nama-nama kitab Wahbiyyah berikut ini :

كتـاب ( تلخيص عقائد الوَهْبِيَّة في نكتة توحيد خالق البرية ) * للشيخ إبراهيم بن بيحمان اليسجني من علماء وادي مِيزَاب بالجزائر ( ت : 1232هـ / 1817م )
كتاب ( العقيدة الوَهْبِيَّة ) * للشيخ أبي مسلم ناصر بن سالم البَهْلانِي من علماء عُمَان ( ت : 1339هـ / 1920م )
كتاب ( دفع شبه الباطل عن الإباضية الوَهْبِيَّة المحقة ) * للشيخ أبي اليقظان إبراهيم من علماء وادي مِيزَاب بالجزائر ( ت : 1393هـ / 1973م )
Perhatikan, ini pengakuan dan pernyataan dari mereka sendiri bahwa faham mereka bernama “Wahbiyyah- الوَهْبِيَّة” bukan Wahhabiyyah, semua mata pun bisa melihat dengan sangat jelas, hanya hati yang ingkar yang masih mempertahankan cerita yang tidak bisa dibuktikan kebenaran nya, ketika cerita atau sejarah sudah tidak lagi sesuai dengan fakta, maka pantaslah cerita itu masuk dalam kategori Dongeng, silahkan saja bercerita, tapi bukan untuk di percaya, tapi seharusnya seorang Ustadz tidak mengelabui murid-murid nya dengan cerita dusta, apalagi setingkat Ustadz lulusan luar negeri, sungguh sangat disayangkan. (semoga allah membuka mata mereka)

WAHHABI ADALAH NAMA AJARAN SYEKH MUHAMMAD IBNU ABDIL WAHHAB AT-TAMIMI AN-NAJDI
berikut bukti pengakuan dari Syaikh Wahabi yakni Ibnu Baz dalam kitab Fatawa Nur ‘ala al-darb pada soal yang ke 6 sebagai berikut :
س 6 – يقول السائل: فضيلة الشيخ، يسمي بعض الناس عندنا العلماء في المملكة العربية السعودية بالوهابية فهل ترضون بهذه التسمية؟ وما هو الرد على من يسميكم بهذا الاسم؟
“Soal ke 6 – Seseorang bertanya kepada Syaikh : Sebagian manusia menamakan Ulama-Ulama di Arab Saudi dengan nama Wahabi [Wahabiyyah], adakah antum ridho dengan nama tersebut ? dan apa jawaban untuk mereka yang menamakan antum dengan nama tersebut ?” Syaikh Ibnu Baz menjawab sebagai berikut :

الجواب: هذا لقب مشهور لعلماء التوحيد علماء نجد ينسبونهم إلى الشيخ الإمام محمد بن عبد الوهاب رحمة الله عليه
“Jawab : Penamaan tersebut masyhur untuk Ulama Tauhid yakni Ulama Nejed [Najd], mereka menisbahkan para Ulama tersebut kepada Syaikh Muhammad ibnu Abdil Wahhab. dan bahkan Ibnu Baz memuji nama tersebut, ia berkata :
فهو لقب شريف عظيم
“Nama itu (Wahhabiyah) adalah panggilan yang sangat mulia dan sangat agung”.
Sungguh pengakuan yang sangat jujur yang seharusnya dimiliki oleh semua Syekh Salafi-Wahabi, kenapa harus main curang kalau memang yakin dengan kebenaran dakwah Wahabi ? lagi pula kebenaran dan kesesatan bukan pada sebuah nama atau julukan, justru kebohongan yang semakin lama semakin banyak Nampak ke permukaan, akan membuat para penggemar Salafi-Wahabi kecewa, ketika mereka tau ternyata Wahabi bukan bermanhaj Salaf.

KESALAHAN PARA SYEKH SALAFI-WAHABI DALAM DONGENG INI
1. Menghubungkan Fatwa tentang firqah Wahbiyyah dengan firqah Wahhabiyyah.
2. Menghilangkan atau menganggap sama Wahbiyyah dengan Wahhabiyyah.
3. Cerita nya tidak sesuai dengan apa yang ada dalam kitab atau buku rujukan yang tersebut dalam cerita itu.
4. Menceritakan bahwa Abdul Wahhab bin Abdirrahman bin Rustum adalah pendiri Wahbiyyah, agar sesuai dengan tujuan cerita.
5. Ternyata tidak ada ajaran bernama Wahhabi pada masa daulah Rustumiyyah.
6. Wahbiyyah ternyata nisbah kepada Abdullah bin Wahbi Ar-Rasibi.
7. Main curang untuk membela satu paham yang mereka anggap benar.

MISI DIBALIK DONGENG INI
Siapa pun bisa menebak apa misi di balik trik ini, trik yang sudah terlalu sering digunakan oleh para Syekh Wahhabi Saudi, walaupun trik ini kelihatan sangat super bodoh tapi tetap mereka pertahankan, karena sangat efektif mempengaruhi orang bodoh (awam), ideologi bodoh itu sangat ilmiah dan masuk akal di kalangan orang bodoh, tapi orang yang berpendidikan pasti bisa melihat apa maksudnya dongeng itu ? dia pasti bisa merasakan ada sesuatu di balik cerita yang tidak ada manfaat itu, dan bahkan sangat jelas dalam dongeng itu pun telah ada pembelaan terhadap ajaran Syekh Muhammad bin Abdil Wahhab, kemiripan sebuah nama, mereka gunakan untuk menutupi kesesatan ajaran mereka, agar orang buta bertambah gelap dalam kebutaan nya, dan menyangka itulah Wahhabi sesungguhnya yang difatwakan sesat oleh ulama Ahlus Sunnah, dan ajaran sesat Syekh Muhammad bin Abdil Wahhab pun terlepas dengan hanya sebuah dongeng belaka (na’uzubillah min dzalik).

FATWA ULAMA AHLUS SUNNAH WALJAMA’AH TENTANG AJARAN SYEKH MUHAMMAD BIN ABDIL WAHHAB AT-TAMIMI
Al-Imam Ibn Abidin Al-Hanafi berkata :
Keterangan tentang pengikut Muhammad bin Abdul Wahhab, kaum Khawarij pada masa kita. Sebagaimana terjadi pada masa kita, pada pengikut Ibn Abdil Wahhab yang keluar dari Najd dan berupaya keras menguasai dua tanah suci. Mereka mengikuti madzhab Hanabilah. Akan tetapi mereka meyakini bahwa mereka saja kaum Muslimin, sedangkan orang yang berbeda dengan keyakinan mereka adalah orang-orang musyrik. Dan oleh sebab itu mereka menghalalkan membunuh Ahlussunnah dan para ulamanya sampai akhirnya Allah memecah kekuatan mereka, merusak negeri mereka dan dikuasai oleh tentara kaum Muslimin pada tahun 1233 H. (Hasyiyah Raddul Muhtar ‘ala Ad-Durr al-Mukhtar-juzuk 4- halaman 262).

Al-Imam Muhammad bin Abdullah bin Humaid Al-Hanbali An-Najdi berkata :
Abdul Wahhab bin Sulaiman At-Tamimi An-Najdi, adalah ayah pembawa dakwah Wahhabiyah, yang percikan apinya telah tersebar di berbagai penjuru. Akan tetapi antara keduanya terdapat perbedaan. Padahal Muhammad (pendiri Wahhabi) tidak terang-terangan berdakwah kecuali setelah meninggalnya sang ayah. Sebagian ulama yang aku jumpai menginformasikan kepadaku, dari orang yang semasa dengan Syaikh Abdul Wahhab ini, bahwa beliau sangat murka kepada anaknya, karena ia tidak suka belajar ilmu fiqih seperti para pendahulu dan orang-orang di daerahnya. Sang ayah selalu berfirasat tidak baik tentang anaknya pada masa yang akan datang. Beliau selalu berkata kepada masyarakat, “Hati-hati, kalian akan menemukan keburukan dari Muhammad.” Sampai akhirnya takdir Allah benar-benar terjadi. Demikian pula putra beliau, Syaikh Sulaiman (kakak Muhammad bin Abdul Wahhab), juga menentang terhadap dakwahnya dan membantahnya dengan bantahan yang baik berdasarkan ayat-ayat al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Syaikh Sulaiman menamakan bantahannya dengan judul Fashl al-Khithab fi al-Radd ‘ala Muhammad bin Abdul Wahhab. Allah telah menyelamatkan Syaikh Sulaiman dari keburukan dan tipu daya adiknya meskipun ia sering melakukan serangan besar yang mengerikan terhadap orang-orang yang jauh darinya. Karena setiap ada orang yang menentangnya, dan membantahnya, lalu ia tidak mampu membunuhnya secara terang-terangan, maka ia akan mengirim orang yang akan menculik dari tempat tidurnya atau di pasar pada malam hari karena pendapatnya yang mengkafirkan dan menghalalkan membunuh orang yang menyelisihinya. (As-Suhub Al-Wabilah ‘ala Dharaih Al-Hanabilah-halaman 275).

Al-Imam Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan Asy-Syafi’I Al-Makki :
Sayyid Abdurrahman al-Ahdal, mufti Zabid berkata: “Tidak perlu menulis bantahan terhadap Ibnu Abdil Wahhab. Karena sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam cukup sebagai bantahan terhadapnya, yaitu “Tanda-tanda mereka (Khawarij) adalah mencukur rambut (maksudnya orang yang masuk dalam ajaran Wahhabi, harus mencukur rambutnya)”. Karena hal itu belum pernah dilakukan oleh seorang pun dari kalangan ahli bid’ah. (Fitnah Al-Wahhabiyah, halaman. 54).

Al-Imam Ahmad bin Muhammad As-Shawi Al-Maliki :
Ayat ini turun mengenai orang-orang Khawarij, yaitu mereka yang mendistorsi penafsiran al-Qur’an dan Sunnah, dan oleh sebab itu mereka menghalalkan darah dan harta benda kaum Muslimin sebagaimana yang terjadi dewasa ini pada golongan mereka, yaitu kelompok di negeri Hijaz yang disebut dengan aliran Wahhabiyah, mereka menyangka bahwa mereka akan memperoleh sesuatu (manfaat), padahal merekalah orang-orang pendusta. (Hasyiyah al-Shawi ‘ala Tafsir al-Jalalain- juzuk 3- halaman 307).
Pandangan Ulama empat madzhab di atas sangat jelas untuk ajaran Syekh Muhammad bin Abdil Wahhab At-Tamimi An-Najdi yang bernama Wahhabi, bukan untuk ajaran Abdul Wahhab bin Abdirrahman bin Rustum atau Firqah Wahbiyyah Rustumiyyah Ibadhiyyah.

KESIMPULAN
~ Firqah yang difatwakan sesat oleh Al-Lakhmi dalam dongeng adalah ajaran yang dinisbahkan kepada Abdul Wahhab bin Abdirrahman bin Rustum yang bernama Wahhabiyyah, tapi kenyataan nya dalam rujukan kitab itu, bukan bernama Wahhabiyyah tapi Wahbiyyah.
~ Wahbiyyah bukan nisbah kepada Abdul Wahhab bin Abdirrahman bin Rustum, tapi nisbah kepada Abdullah bin Wahbi Ar-Rasibi.
~ Wahbiyyah dan Wahhabiyyah adalah dua nama untuk dua ajaran yang berbeda dan masa berbeda.
~ Wahhabi atau Wahhabiyyah yang telah difatwakan sesat oleh Ulama Ahlus Sunnah Wal Jama’ah semua Madzhab, sejak kemunculan nya sampai sekarang adalah ajaran Syekh Muhammad bin Abdil Wahhab At-Tamimi An-Najdi, dan tidak ada hubungan dengan fatwa Al-Lakhmi.
~ Ada misi di balik dongeng tersebut, mereka ingin membela ajaran Syekh mereka dengan cara berdusta dan membodohi para pengikut setia mereka, dan mengalihkan semua Fatwa Ulama hlus Sunnah Waljama’ah kepada ajaran lain yang hampir serupa nama nya dalam penulisan dan bacaan nya.
~ Fatwa Ulama Ahlus Sunnah seluruh Madzhab, ditujukan kepada ajaran Syekh Muhammad bin Abdil Wahhab An-Najdi, yakni ajaran Salafi-Wahabi.
~ Wahabi dalam dongeng tersebut tidak ada hubungan dengan Salafi-Wahabi, bukan sebagai bukti sesat nya atau tidak sesat nya.
~ Wahhabi yang sesungguhnya hanya ada satu yakni ajaran Syekh Muhammad bin Abdil Wahhab At-Tamimi An-Najdi, karena ajaran Abdul Wahhab bin Abdirrahman bin Rustum tidak pernah dinamakan dengan nama Wahhabi kecuali hanya dalam dongeng itu saja.
~ Hati-hati membaca dongeng, jangan sampai anda termakan dan menjadi korban sebuah dongeng, apalagi dongeng dalam masalah Agama.
Semoga tulisan ini menjadi ilmu bagi penulis dan pembaca semua, dan juga kepada siapa pun yang pernah termakan oleh dongeng itu, Wallahul muwaffiq ila aqwamit thoriq, amiin…

Sumber Dari: http://www.ngaji.web.id/2015/09/wahabi-diciptakan-abdul-wahab-bin.html#ixzz4LJ8MxwIV

Thursday, September 15, 2016

Kembali Kepada Allah Sebagaimana Dia Mula Menjadikan Kita

KEMBALI KEPADA ALLAH SEBAGAIMANA IA MULA MENJADIKAN KITA

7.Surah Al-'A`rāf (Verse 29) 

Katakanlah: "Tuhanku menyuruh berlaku adil (pada segala perkara), dan (menyuruh supaya kamu) hadapkan muka (dan hati) kamu (kepada Allah) dengan betul pada tiap-tiap kali mengerjakan sembahyang, dan beribadatlah dengan mengikhlaskan amal ugama kamu kepadaNya semata-mata; (kerana) sebagaimana Ia telah menjadikan kamu pada mulanya, (demikian pula) kamu akan kembali (kepadaNya).

Matikan sangkaan ada diri sendiri disamping ada Allah

Hidup atau hadirkan rasa ada Allah sahaja (esa). Dengan melakukan jalan dan cara untuk menetapkan iktiqad tauhid.

Ada yang mana satu yang hendak dihadirkan sebagai ada Allah..

Ada yang sedang dirasai sekarang ini, yang selama ini telah disangka sebagai ada diri sendiri disamping ada Allah.

Ada yang sedang dirasa yang selama ini yang telah disangka ada diri sendiri itu hendaklah disangka sebagai ada Allah yang sedikit yang diperkenalkan. Ini dapat dilakukan dengan melakukan jalan dan cara untuk menetapkan iktiqad tauhid bukan dengan bersangka-sangka..

Yang sedang menyangka ada yang sedang dirasai sekarang ini sebagai ada Allah yang sedikit yang sedang diperkenalkan juga adalah Allah sendiri..

Istiharkan perang dengan sangkaan ada diri sendiri disamping ada Allah dengan melakukan jalan dan cara untuk menetapkan iktiqad tauhid, sehingga berlakunya penyaksian dan pengakuan bahawa ada yang sedang dirasakan adalah ada Allah, seterusnya sehingga berlaku pula penyaksian dan pengakuan kepada Allah yang merasa ada Allah (Allah mengenal Allah)..

Tanda sudah berlaku penyaksian dan pengakuan kepada sifat-sifat Allah adalah sifat Allah dan penyaksian dan pengakuan Allah sedang merasa ada Allah (Allah mengenal Allah) ....

Tidak lagi hadir rasa perasaan yang sedang merasa ada diri sendiri kerana sedang tenggelam didalam keadaan Allah sedang merasa ada Allah semata-mata.... Esa adanya.

Bila sudah mencapai dan sedang merasa Allah sedang merasa ada Allah ( AKU KENAL TUHANKU DENGAN TUHANKU)..

Maka ternyatalah Allah yang awal, Allah yang akhir, Allah yang zahir, Allah yang batin..

Zahir Allah namanya Adam (Huwaz zohiru)

Batin Allah namaNya Muhammad (huwal batinu)

Sabda Nabi Muhammad saw "ANA ABU AR RUH WA ADAM ABU BASYAR

Rahsia Allah Huu zat semata-mata ( huwal auwalu, huwal akhiru)..

Allah nama bagi zat Allah setelah dinyatakan kenyataannya pada keseluruhan Alam ini. - kenyataannya ialah ketika keluarnya nafas. Sedang berlaku pula Laa haulawala quwwatailla billah..

Huu zat semata-mata Nama bagi zat Allah sebelum ternyatanya kenyataan Allah ( Akulah perbendaharaan yang tersembunyi) kenyataannya ketika masuknya nafas. Sedang berlaku pula Laa maujudun, laa haiyun, laa 'alimun, laa khodirun, laa muridun, laa basirun, laa sami'unn, laa mutakallimun bil haqqi qati illallah..

Haq Nama kebenaran Allah, kenyataannya ditempat pertemuan, atau perhentian nafas (tidak masuk dan tidak keluar - pertemuan diantara hamba dengan tuhan, tiada tuhan dan tiada hamba lagi hanya Esa zat semata-mata - HAQ.

Disinilah pertemuan diantara dua lautan (lautan lahir dan lautan batin - pertemuan huwaz zohiru (dikiaskan kepada nabi Musa a.s dengan huwal batinu (dikiaskan dengan Nabi khidzir)

Hum adalah nama Allah yang penghabisan kali disebut ketika terputusnya nafas yang penghabisan, dimana anak tekak akan membentuk huruf mim...

Alif kenyataannya pada batang hidung,

Lam kenyataannya pada lidah (tertongkat kelangit-langit yang telah membenarkan nafas yang penghabisan melaluinya untuk keluar melalui ubun-ubun sepertimana ianya mula-mula masuk kedalam tubuh setelah roh ditiupkan... (Mengikut jalan yang lurus)..Jika lidah tidak tertongkat kelangit-langit ditakuti nafas yang penghabisan tersalah jalan ( bukan jalan yang lurus tetapi jalan yang tersesat).

Mim kenyataannya pada anak tekak akan membentuk huruf mim setelah nafas yang penghabisan terputus (kullunafsin za'i katul maut)...

Apabila berlakunya nafas yang penghabisan maka terputuslah hubungan diantara Roh (Huwal batinu) dengan jasad (huwaz zohiru).. nyatalah Huwal akhiru...

Alif lam mim - Allah latifun muhitul lil 'alamin... Allah maha lemah lembut serta meliputi keseluruhan alam zahir dan batin ( huwaz zohiru huwal batinu)...

Jasad sentiasa mati seperti matinya mayat. Sebagaimana mayat begitulah jasad kita sekarang ini.

Mayat nampak hidup kerana telah ditiupkan Rohullah kedalamnya. Sebenarnya Rohullah inilah yang hidup, hidup Rohullah terpancar dan terlihat keatas jasad atau badan melalui nafas.. Selagi ada nafas selagi itulah jasad akan nampak hidup, segala sifat-sifat ketuhanan yang terlihat, yang terasa pada badan atau jasad adalah sifat Rohullah yang dinyatakan keatas badan melalui nafas..

Jadi nafas sebenarnya adalah pekerjaan Rohullah yang menyampaikan segala apa yang ada pada Rohullah kepada jasad...

Rohullah adalah sifat ketuhanan Allah, Rohullah bersifat dengan cara ghaib iaitu tidak nampak oleh mata, tidak dapat dipegang oleh tangan, tidak dapat difikirkan oleh akal. Sifat Rohullah ini ternyata kepada badan melalui nafas.....

Nafas adalah jalan yang sentiasa menghubungkan diantara jasad dengan Rohullah. Setelah terhenti nafas maka terputuslah jambatan atau jalan penghubung yang menghubungkan diantara jasad dengan Rohullah...

Nafas adalah jalan yang menghubungkan diantara Rohullah dengan jasad. Nafas juga adalah jalan atau tempat dimana Rohullah menyerahkan apa yang ada padanya kepada jasad dan tempat atau jalan dimana jasad akan menyerahkan apa yang ada padanya kepada Rohullah...

Setelah Ruhullah ditiupkan kedalam jasad maka nafaslah yang menjadi jalan penghubung diantara Rohullah dengan jasad....

Setelah keluar sahaja dari rahim ibu (syurga) maka Rohullah sentiasa terhubung dengan jasad melalui nafas..

Nafas ini adalah jalan yang lurus yang telah dipertaruhkan keatas setiap badan diri, hendaklah dijaga jalan yang lurus ini supaya tidak tersesat jalan...

Jagalah jalan yang lurus ini supaya tidak tersesat jalan, bernafaslah sepertimana bayi yang didalam buaian bernafas, janganlah lari atau terkeluar dari cara bernafasnya bayi ( sabda Nabi Muhammad saw yang bermaksud tuntutlah ilmu dari bayi didalam buaian sehinggalah kepada jasad didalam liang lahad)..

Jalannya pernafasan bayi didalam buaian belum lagi tersesat, sebab itu bayi sehingga kepada kanak-kanak sebelum berakal tidak berdosa, jalannya belum lagi tersesat, 

Nafasnya sentiasa berada diatas jalan yang lurus dan sentiasa terhubung kepada Rohullah dan seterusnya terhubung kepada Allah.

Sebab itu bayi didalam buaian sehingga kepada kanak-kanak yang belum berakal tidak terkena dosa.

Oleh yang demikian wahai para sahabat sekalian kembalilah kepada jalan yang lurus sepertimana jalannya bayi.. Kembalilah bernafas sepertimana bayi didalam buaian bernafas kerana nafaslah merupakan satu-satunya jalan yang menghubungkan diantara jasad dengan Rohullah.

Apabila terputus nafas pada nafas yang penghabisan maka seseorang itu telah dikatakan mati.. 

Nafas merupakan jalan atau tempat Rohullah menyerahkan apa yang ada padanya kepada jasad dan tempat atau jalan dimana jasad menyerahkan apa yang ada padanya kepada rohullah...

Jagalah jalannya nafas supaya tidak tersesat kerana lurusnya jalan pernafasan itu maka luruslah perjalanan kembali kepada Allah..

Kembalilah bernafas sepertimana bayi bernafas iaitulah jalan yang lurus yang terletak dan dipunyai oleh setiap badan diri sendiri...

Tersesatnya jalan pernafasan maka akan tersesatlah jalan untuk kembali kepada asal iaitu kepada Allah ( daripada Allah kita datang dan kepada Allah kita akan kembali)...

18.Surah Al-Kahf (Verse 61)

Maka apabila mereka berdua sampai ke tempat pertemuan dua laut itu, lupalah mereka akan hal ikan mereka, lalu ikan itu menggelunsur menempuh jalannya di laut, yang merupakan lorong di bawah tanah.

18.Surah Al-Kahf (Verse 62)

Setelah mereka melampaui (tempat itu), berkatalah Nabi Musa kepada temannya: "Bawalah makan tengah hari kita sebenarnya kita telah mengalami penat lelah dalam perjalanan kita ini".

18.Surah Al-Kahf (Verse 63)

Temannya berkata: "Tahukah apa yang telah terjadi ketika kita berehat di batu besar itu? Sebenarnya aku lupakan hal ikan itu; dan tiadalah yang menyebabkan aku lupa daripada menyebutkan halnya kepadamu melainkan Syaitan; dan ikan itu telah menggelunsur menempuh jalannya di laut, dengan cara yang menakjubkan".

18.Surah Al-Kahf (Verse 64)

Nabi Musa berkata: "Itulah yang kita kehendaki "; merekapun balik semula ke situ, dengan menurut jejak mereka.

18.Surah Al-Kahf (Verse 65)

Lalu mereka dapati seorang dari hamba-hamba Kami yang telah kami kurniakan kepadanya rahmat dari Kami, dan Kami telah mengajarnya sejenis ilmu; dari sisi Kami.

18.Surah Al-Kahf (Verse 66)

Nabi Musa berkata kepadanya: Bolehkah aku mengikutmu, dengan syarat engkau mengajarku dari apa yang telah diajarkan oleh Allah kepadamu, ilmu yang menjadi petunjuk bagiku?"

18.Surah Al-Kahf (Verse 67)

Ia menjawab: "Sesungguhnya engkau (wahai Musa), tidak sekali-kali akan dapat bersabar bersamaku.

18.Surah Al-Kahf (Verse 68)

Dan bagaimana engkau akan sabar terhadap perkara yang engkau tidak mengetahuinya secara meliputi?

18.Surah Al-Kahf (Verse 69)

Nabi Musa berkata: "Engkau akan dapati aku, Insyaa Allah: orang yang sabar; dan aku tidak akan membantah sebarang perintahmu".

18.Surah Al-Kahf (Verse 70)

Ia menjawab: "Sekiranya engkau mengikutku, maka janganlah engkau bertanya kepadaku akan sesuatupun sehingga aku ceritakan halnya kepadamu".

Cuba perhatikan didalam firman Allah seperti diatas, tempat pertemuan dua laut itu diatas batu besar, Apakah sebenarnya yang dimaksudkan dengan batu besar itu?....

PANTANG NABI MUSA NAK BELAJAR DARI NABI KHIDIR IALAH "JANGAN BERTANYA SESUATUPUN"

Apabila kedua-duanya bersetuju dengan syarat itu maka perjalanan diteruskan....

Lagi firman Allah 

18.Surah Al-Kahf (Verse 71)

Lalu berjalanlah keduanya sehingga apabila mereka naik ke sebuah perahu, ia membocorkannya. Nabi Musa berkata: "Patutkah engkau membocorkannya sedang akibat perbuatan itu menenggelamkan penumpang-penumpangnya? 

Sesungguhnya engkau telah melakukan satu perkara yang besar".

18.Surah Al-Kahf (Verse 72)

Ia menjawab: "Bukankah aku telah katakan, bahawa engkau tidak sekali-kali akan dapat bersabar bersamaku?"

18.Surah Al-Kahf (Verse 73)

Nabi Musa berkata: "Janganlah engkau marah akan daku disebabkan aku lupa (akan syaratmu); dan janganlah engkau memberati daku dengan sebarang kesukaran dalam urusanku (menuntut ilmu)".

18.Surah Al-Kahf (Verse 74)

Kemudian keduanya berjalan lagi sehingga apabila mereka bertemu dengan seorang pemuda lalu ia membunuhnya. Nabi Musa berkata "Patutkah engkau membunuh 
satu jiwa yang bersih, yang tidak berdosa membunuh orang? Sesungguhnya engkau telah melakukan satu perbuatan yang mungkar!"

18.Surah Al-Kahf (Verse 75)

Ia menjawab: "Bukankah, aku telah katakan kepadamu, bahawa engkau tidak sekali-kali akan dapat bersabar bersamaku?"

18.Surah Al-Kahf (Verse 76)

Nabi Musa berkata: "Jika aku bertanya kepadamu tentang sebarang perkara sesudah ini, maka janganlah engkau jadikan daku sahabatmu lagi; sesungguhnya engkau telah cukup mendapat alasan-alasan berbuat demikian disebabkan pertanyaan-pertanyaan dan bantahanku".

18.Surah Al-Kahf (Verse 77)

Kemudian keduanya berjalan lagi, sehingga apabila mereka sampai kepada penduduk sebuah bandar, mereka meminta makan kepada orang-orang di situ, lalu orang-orang itu enggan menjamu mereka. Kemudian mereka dapati di situ sebuah tembok yang hendak runtuh, lalu ia membinanya. Nabi Musa berkata: "Jika engkau mahu, tentulah engkau berhak mengambil upah mengenainya!"

18.Surah Al-Kahf (Verse 78)

Ia menjawab: "Inilah masanya perpisahan antaraku denganmu, aku akan terangkan kepadamu maksud (kejadian-kejadian yang dimusykilkan) yang engkau tidak dapat bersabar mengenainya.

18.Surah Al-Kahf (Verse 79)

Adapun perahu itu adalah ia dipunyai oleh orang-orang miskin yang bekerja di laut; oleh itu, aku bocorkan dengan tujuan hendak mencacatkannya, kerana di belakang mereka nanti ada seorang raja yang merampas tiap-tiap sebuah perahu yang tidak cacat.

18.Surah Al-Kahf (Verse 80)

Adapun pemuda itu, kedua ibu bapanya adalah orang-orang yang beriman, maka kami bimbang bahawa ia akan mendesak mereka melakukan perbuatan yang zalim dan kufur.

18.Surah Al-Kahf (Verse 81) 

Oleh itu, kami ingin dan berharap, supaya Tuhan mereka gantikan bagi mereka anak yang lebih baik daripadanya tentang kebersihan jiwa, dan lebih mesra kasih sayangnya.

18.Surah Al-Kahf (Verse 82)

Adapun tembok itu pula, adalah ia dipunyai oleh dua orang anak yatim di bandar itu; dan di bawahnya ada "harta terpendam" kepuyaan mereka; dan bapa mereka pula adalah orang yang soleh. Maka Tuhanmu menghendaki supaya mereka cukup umur dan dapat mengeluarkan harta mereka yang terpendam itu, sebagai satu rahmat dari Tuhanmu (kepada mereka). Dan (ingatlah) aku tidak melakukannya menurut fikiranku sendiri. Demikianlah penjelasan tentang maksud dan tujuan perkara-perkara yang engkau tidak dapat bersabar mengenainya".

CUBA KITA PERHATIKAN FIRMAN ALLAH INI KAITANNYA BERHUBUNG DENGAN PERNAFASAN KITA... 

APAKAH IKTIBAR PENGAJARAN YANG TERDAPAT DIDALAM FIRMAN ALLAH TERSEBUT ?

Thursday, September 8, 2016

Keputusan Muktamar Chechnya “Siapakah Ahlussunnah Wal Jama’ah" : AL-HABIB ALI ZAENAL ABIDIN BIN ABU BAKAR AL-HAMID

Kita kasi clear sekali lagi kepada Wahhabi yg perasan ahlul hadis dan cuba memfitnah ASWJ dan menipu orang awam.

*CATATAN REHLAH DAKWAH AL-HABIB ALI ZAENAL ABIDIN BIN ABU BAKAR AL-HAMID*

Mohon baca & sebarkan manfaat ini...

*_KEPUTUSAN MUKTAMAR “Siapakah Ahlussunnah Wal Jama’ah: Penjelasan dan Sifat Manhaj ASWJ; Akidah, Fiqh dan Akhlak, serta Akibat Penyimpangan darinya."_*

‎بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Segala puji bagi Allah Tuhan Semesta Alam. Selawat dan salam semoga sentiasa tercurah kepada Sayyidina Muhammad ﷺ , Ahli Keluarga dan para Sahabat Baginda seluruhnya.

Pada malam Khamis, 21 Zulqaedah 1437H. (25 Ogos 2016), telah berlangsung Muktamar Ahlussunnah Wal Jama'ah (ASWJ). Acara ini berlangsung di atas sokongan daripada Presiden Chechnya Ramzan Ahmed Kadyrov hafizahullah, turut dihadiri oleh Grand Shaikh Al-Azhar, para mufti dan lebih dari 200 ulama' dari seluruh dunia.

*HASIL DARIPADA MUKTAMAR :*

[1] Menjadikan sambutan Grand Shaikh Al-Azhar sebagai piagam utama muktamar.

[2] Ahlussunnah Wal Jama'ah adalah Asyairah dan Maturidiyah, termasuk Ahlul Hadith yang berpegangkan konsep تفويض (tidak mentakwilkan ayat-ayat mutasyabih) dalam Aqidah, dan empat mazhab Hanafi, Maliki, Syafii dan Hambali dalam Fiqh, serta ahli tasawuf yang murni - Ilmu dan akhlak serta Tazkiyah (mensucikan hati) — Sesuai dengan manhaj Imam Junaid dan para ulama yang menyelusuri jalannya. Iaitu manhaj yang menghargai seluruh disiplin ilmu yang berkhidmat kepada wahyu, yang telah benar-benar menyingkap ajaran-ajaran agama ini dan tujuan-tujuannya dalam menjaga jiwa dan akal, Dan menjaga agama dari penyimpangan serta dipermainkan, menjaga harta dan kehormatan, serta menjaga akhlak yang mulia.

[3] Al-Quran Al-Karim adalah bangunan yang dikelilingi oleh berbagai ilmu yang membantu menggali makna-maknanya, mengetahui tujuan-tujuannya yang menghantarkan manusia kepada ma’rifat kepada Allah SWT., mengeluarkan ilmu-ilmu yang terkandung di dalamnya, memindahkan kandungan ayat-ayatnya kepada pelaksanaan dalam kehidupan, peradaban, sastera, seni, akhlak, kasih sayang, ketenteraman, keimanan dan pembangunan, serta menyebarkan perdamaian dan keamanan ke seluruh dunia. Sehingga seluruh bangsa dan budaya serta peradaban yg berbeza-beza dapat melihat dengan jelas bahawa agama ini adalah rahmat bagi seluruh semesta alam, serta jaminan kebahagiaan di dunia dan akhirat.

[4] Manhaj ASWJ adalah Manhaj Islam yang paling komprehensif dan tepat. Manhaj ini paling prihatin di dalam memilih sumber-sumber ilmiah dan metodologi pendidikan yang mencerminkan secara benar tentang cara berfikir seorang Muslim di dalam memahami syariat dan mengetahui kebenaran dengan pelbagai masalah serta cara mengharmonikan di antara kedua-duanya dengan baik.

[5] Institusi-institusi pendidikan Ahlussunnah Wal Jamaah telah berdiri sejak beberapa abad dan telah berjaya menghasilkan ratusan ribu ulama yang tersebar di seluruh penjuru dunia dari Siberia hingga Nigeria, serta dari Tangier hingga Jakarta. Mereka telah meraih pelbagai posisi dan jawatan, serta mengambil amanah di dalam tugas fatwa, keadilan, pendidikan dan penyuluhan agama, sehingga seluruh masyarakat menikmati keamanan. Mereka juga berhasil memadamkan api fitnah dan peperangan, sehingga keadaan negara menjadi stabil. Dan mereka pun telah menyebarkan ilmu dan pemahaman yang benar.

[6] Sepanjang sejarah, Ahlussunnah Wal Jamaah senantiasa memantau berbagai pemikiran yang menyimpang dan memantau tulisan dan konsep pelbagai kelompok. Kemudian mereka menimbang semua itu dalam parameter ilmu serta memberikan kritikan dan bantahan. Mereka juga senantiasa menunjukkan keberanian dan ketegasan dalam menghadapi berbagai bentuk penyimpangan. Mereka menggunakan ilmu-ilmu yang kukuh di dalam melakukan pemilihan dan pembetulan. Setiap kali Manhaj Ahlussuunnah Wal Jamaah tersebar secara aktif maka gelombang ekstremisme pasti akan surut. Sehingga, kondisi umat Islam stabil dan dapat kosentrasi dalam menciptakan sebuah peradaban. Akhirnya didapati para cendekiawan muslim yang menyumbang di dalam ilmu aljabar, ilmu hitung (arithmetic), trigonometri, ilmu geometri analitis, pecahan, algoritma, berat (massa), kedoktoran dan oftalmologi, psikiatri, onkologi, epidemi, embrio, ubat-ubatan, ensiklopedia farmasi, ilmu flora dan fauna, gravitasi, astronomi, lingkungan hidup, ilmu akustik, ilmu optik dan ilmu-ilmu lainnya. Itu semua adalah buah dari Manhaj Ahlussunnah Wal Jamaah yang tidak terbantahkan.

[7] Sehingga kini, pelbagai fahaman yang mengatakan fahaman mereka berdasarkan wahyu namun mereka terkeluar dari metodologi ilmiah yang benar dan ingin menghancurkannya, serta mengusik keamanan dan kenyamanan masyarakat. Gelombang pertama yang sesat dan membahayakan itu adalah Khawarij klasik hingga sampai pada Neo-Khawarij saat ini dari kalangan Salafi Takfiri dan ISIS serta semua kelompok radikal yang mengikuti aliran-aliran ekstrem. Dan kelompok-kelompok politik yang memiliki kesamaan iaitu distorsi, pemalsuan dan interpretasi yang salah terhadap ajaran agama ini. Akibatnya, mereka melahirkan puluhan konsep yang rancu dan interpretasi batil yang melahirkan takfir, penghancuran, pertumpahan darah dan yang merosakkan harta serta penodaan kemurnian Islam dan menyebabkan Islam diperangi dan dimusuhi. Hal inilah yang mewajibkan para ulama yg adil sebagai penanggungjawab agama ini untuk membersihkan Islam dari semua hal itu, berdasarkan sabda Nabi ﷺ dalam hadis sahih : “Ilmu ini dipikul oleh orang-orang yang adil dari setiap generasi, mereka membersihkan ilmu tersebut dari penyimpangan orang yang melampaui batas, kedustaan para pembuat kebatilan dan interpretasi orang-orang yang bodoh."

[8] Dengan izin Allah, Muktamar ini merupakan titik balik yang berkah untuk meluruskan penyimpangan tajam yang berbahaya yang mendominasi pengertian “Ahlussunnah Wal Jamaah” setelah berbagai usaha pembajakan kalangan ektremis terhadap istilah ini dan membatasinya hanya pada diri mereka, dan mengeluarkan  Ahlussunnah Yg sebenarnya dari golongan Ahlussunnah. Pelurusan penyimpangan ini dilakukan dengan mengaktifkan metode ilmiah yang kuat dan sahih yang diterapkan oleh institusi-institusi pendidikan kita yang besar yang merupakan benteng keamanan dalam membantah berbagai wacana takfiri dan ekstremis. Hal ini juga dilakukan dengan mengirimkan pesan-pesan keamanan, kasih sayang dan perdamaian ke seluruh penjuru dunia sehingga – dengan izin Allah - seluruh negeri kita kembali menjadi mimbar cahaya dan sumber hidayah.

*CADANGAN DARIPADA MUKTAMAR :*

[1] Membuat saluran TV yang meliputi seluruh Rusia untuk menyampaikan kemurnian Islam yang sebenarnya kepada seluruh warga agar berupaya memerangi ekstremisme dan terorisme.

[2] Pentingnya untuk menyedari kekuatan media sosial dan mencurahkan segenap kemampuan serta keahlian untuk memanfaatkan media-media tersebut secara serius dan aktif.

[3] Mengembalikan kesedaran institusi-institusi pendidikan berdasarakan eksistensi, sejarah dan manhajnya yang otentik dan telah teruji. Juga agar institusi-institusi tersebut mengajarkan kembali berbagai disiplin ilmu yang terpadu, yang mampu menciptakan para ulama yang mampu membimbing umat, mengatasi berbagai bentuk penyimpangan intelektual, menyebarkan ilmu pengetahuan dan perdamaian, serta menjaga tanah air.

[4] Meningkatkan perhatian untuk mengajarkan semua bidang ilmu keislaman, khususnya ilmu Usul Fiqh dan Ilmu Aqidah untuk memperbaiki cara dan meluruskan pemikiran dan melawan dalil-dalil yang menjadi dasar pengkafiran dan ateisme.

[5] Membangunkan pusat keilmuan yang kukuh di Republik Chechnya untuk memantau dan mengkaji kelompok-kelompok kontemporeri dan konsep-konsep dasarnya. Juga membuat pengkalan data yang sah sebagai cara untuk membantah dan mengkritik secara ilmiah berbagai pemikiran dan pendapat ekstrimis. Dan para hadirin di muktamar mengusulkan agar pusat keilmuan tersebut diberi nama “Tabshiir” (pencerahan).

[6] Perlunya meningkatkan kerjasama di antara berbagai lembaga ilmiah yang besar, seperti Al-Azhar Al-Syariif, Al-Qarawiyyin dan Zaitunah, juga antara pusat-pusat ilmu pengetahuan dan penelitian yang ada di dalamnya, juga dengan lembaga-lembaga keagamaan dan ilmiah di Federasi Rusia.

[7] Pentingnya membuka sistem pendidikan jarak jauh demi menyebarkan ilmu yang benar, yang dapat melayani sesiapa sahaja yang ingin mendalami ilmu agama.

[8] Memberikan saranan kepada seluruh pemerintah akan pentingnya mendukung lembaga-lembaga keagamaan dan pusat-pusat pendidikan yang bertunjangkan sifat kesederhanaan. Juga memperingatkan seluruh pemerintah akan bahayanya politik. Mereka perlu membuat perhubungan dengan Majlis Agama Islam agar masyarakat bersatu dan tidak berpecah.

[9] Pemerintah harus menetapkan undang-undang jenayah terhadap tindakan penyebaran kebencian dan provokasi fitnah serta kekacauan dalam agama Islam.

[10] Para peserta seminar merekomendasikan agar institusi Ahlussunnah yang besar -seperti Al-Azhar dan sejenisnya- untuk memberikan biasiswa bagi kaum Muslimin Rusia yang tertarik mendalami ilmu Islam.

[11] Muktamar ASWJ ini harus dianjurkan secara berkala dalam rangka mengkhidmah tujuan-tujuan yang mulia ini dan sebagai usaha untuk mengikuti berbagai tentangan yang muncul dan cara menghadapinya.

[12] Sebuah pasukan seharusnya dibentuk untuk memantau hasil daripada cadangan-cadangan yang diberi di dalam Muktamar ini.

Para peserta Muktamar ASWJ menyampaikan ucapan terima kasih yang sangat besar kepada Presiden Chechnya, Ramzan Ahmed Kadyrov, atas usahanya yang diberkahi Allah demi berkhidmat Al-Quran Yg Mulia dan Al-Sunnah Yg suci Semua.

Mari sama-sama mendoakan agar Allah memberikan taufik kepadanya untuk meneruskan perjuangan ayahandanya, Al-Syahid Syaikh Haji Ahmad Kadyrov, dalam memperjuangkan Islam sebenar dan kemanusiaan, serta membela akidah Ahlussunnah Wal Jama`ah. Semoga Allah Yang Maha Kuasa untuk memberikan rahmat dan ridha-Nya kepada Al-Syahid Syaikh Haji Akhmad Kadyrov (alm) dan memuliakannya di taman-taman Syurga. Dan semoga Allah menjaga Chechnya, dan menjaga keamanan, kemajuan serta kemakmurannya.
Para peserta Muktamar juga mengucapkan terima kasih kepada Pejabat Presiden Chechnya atas kerjasamanya yang baik dengan panitia para penyelenggara, Lembaga Sosial Syaikh al-Syahîd Ahmed Kadyrov,  Yayasan Sosial yang mendukung budaya Islam, ilmu pengetahuan dan pendidikan, Tabah Foundation, dan seluruh pihak yang turut serta di dalam mengikuti Muktamar ini.
Selawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Baginda dan Maulana Muhammad ﷺ, pada seluruh Keluarga dan para Sahabat Baginda.

Grozny, Chechnya,
24 Zulqaedah 1437H

#darulmurtadza #zulhijjah #1437h #islam #iman #ehsan  #habibalizaenalabidin #aqidah #akhlak #sunnah #aswj #grozny #chechnya #malaysiaku

www.darulmurtadza.com

Wahabi dan sifat 20 - kalam Ustaz Mohd Al Amin Daud Al Azhari

[WAHHABI DAN SIFAT 20]

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله والصلاة والسلام على سيدنا وحبيبنا رسول الله
وعلى آله وأصحابه ومن والٓاه
أما بعد،

1. Wahhabi mengatakan pada zaman Nabi tidak ada akidah sifat 20 yang telah disusun secara sistematik oleh Imam Abu Hassan al-Asya'ari dan Imam Abu Mansur Al-Maaturidi رضي الله عنهما.

2. Saya jawab.Jika itu alasan Wahhabi untuk menolak penyusunan sifat 20 maka wahhabi perlu juga menolak penyusunan ilmu usul fiqh dan ulum Al-Hadith kerana Imam Syafie adalah orang yang pertama menyusun keduanya. Wahhabi juga perlu menolak ulum Al-Quran, ilmu nahu, ilmu soraf, ilmu balaghah dan segala macam ilmu yang tidak pernah ada pada zaman Nabi.

3. Bahkan Wahhabi juga perlu menolak kitab-kitab hadith kerana ia disusun oleh ulama dan ia tidak ada pada zaman Nabi. Kitab sahih Bukhari disusun oleh Imam Bukhari dan beliau adalah ulama'. Penyusunan hadith Bukhari berdasarkan ijtihad beliau di dalam memilih hadith-hadith Nabi untuk dijadikan hujjah.

4. Jika Wahhabi mengatakan ilmu sifat 20 berdasarkan ilmu kalam maka saya jawab kepada mereka bahawa segala ilmu qawaid di dalam Islam termasuk ulum dan mustolah hadith juga disusun berdasarkan kepada thoriq al-Mutakallimin.

5. Mengapa Wahhabi sangat membenci pengajian sifat 20? Jawapannya kerana sesiapa yang mendalami dan menguasainya pasti akan menolak akidah mujassimah dan musyabbihah yang mereka cuba sebarkan kepada masyarakat seperti Allah mempunyai anggota tangan, kaki, dua mata, betis. Allah bertempat di langit, di arash, kedua kaki Allah di atas kursi, naik turun Allah ke langit dunia, Allah ketawa dan sebagainya daripada akidah yang tidak mentanzihkan (menyucikan) dan mentauhidkan (mengEsakan) Allah daripada sebarang penyerupaan dengan makhluk.

6. Kita perlu faham segala ilmu itu telah ada pada zaman Nabi صلى الله عليه وسلم namun penyusunan (تدوين العلم) berlaku kemudian selepas kurun para sahabat. Tidak ada di dalam kitab tidak bermakna ilmu itu tidak wujud kerana peringkat awal ilmu diambil daripada dada ke dada dan mulut ke mulut. Maka sebab inilah pentingnya sanad ilmu yang muttasil (berhubung) sehingga kepada Nabi صلى الله عليه وسلم.

7. Teringat ketikamana guru kami Syeikh Dr Usamah as-Sayyid Al-Azhari mengsyarahkan berkaitan dengan ilmu mantiq. Kata beliau ilmu mantiq bukan wujud pada zaman Aristotle (ارسطو) tetapi ia telah wujud semenjak wujudnya manusia. Kerana manusia berfikir. Tinggal lagi Aristotle hanya menyusun secara sistematik dan menulisnya.

8. Benarlah pemikiran Wahhabi akan menghancurkan Islam kerana sedikit demi sedikit mereka cuba menghapuskan peradaban ilmu yang telah dimiliki oleh Islam. Inilah jarum Yahudi yang berusaha menghancurkan Islam daripada dalam kerana mereka sedar tamadun Islam terbina di atas ilmu dan para ulamanya.

خويدم العلم الشريف
محمد الأمين بن دأود الأزهري

JAWAPAN ILMIYYAH DARI LAMAN WEB JAKIM TENTANG BIDAAH

JAWAPAN ILMIYYAH DARI LAMAN WEB JAKIM TENTANG BIDAAH UNTUK PERKONGSIAN BERSAMA, SEMOGA BERMANFAAT DUNIA AKHIRAT ......

SOALAN;
"Saya ada menerima email dengan tajuk PENGHARAMAN KENDURI ARWAH, TAHLILAN, YASINAN & SELAMATAN oleh Ust Rasul Dahri. Adakah ini benar? Harap dapat penjelasan lanjut.

JAWAPAN;
Tidak benar kenyataan di atas. Kenduri arwah, tahlil dan bacaan yasin adalah diharuskan. Tiada satu dalil pun Nabi pernah mengharamkannya. (Tiada hadis yang mengharamkannya) bagaimana mereka boleh kata ianya haram? Siapakah ikutan mereka? Kenyataannya adalah tidak boleh diterima dengan sepenuhnya banyak keraguan berkaitan dengannya. Ustaz pernah membaca bukunya dan mendapati banyak fakta yang diselewengkan dengan sengaja atau kerana kejahilannya contohnya beliau menyatakan Imam Syafie kata Tahlil haram, apabila diselidikli buku yang dinyatakan terbukti bahawa Imam Syafie tidak pernah menyebutkan bahawa tahlil itu haram. Ini adalah antara bentuk pembohongan ilmiah yang dilakukan. Beliau tidak dapat membezakan antara "makruh tahrim" dalam mazhab Syafie dengan istilah "Makruh tahrim" dalam mazhab Hanafi. Bagainmana seorang yang dianggap ulamak boleh tidak tahu (jahil) tentang perbezaan antara keduanya. Beliau banyak mengemukakan fakta yang hanya mengikut hawa nafsunya sahaja, sebagai contoh beliau mengaggungkan iman Nawawi rahimahullah dalam perkara yang sesuai dengan kehendak/ pemikiran atau nafsunya (Sila rujuk buku-buku beliau). Tetapi mendiamkan / menyembunyikan fakta kepada awam tentang pembahagian bidaah kepada 5 bahagian iaitu wajib, haram, sunat, harus dan makruh yang ditulis oleh Imam Nawawi dalam syarah muslim dan juga yang diambil dari Syeikh Izzuddin bin Abdul Salam. Beliau membuat kutipan yang salah tentang dua jenis bidaah yang dinyatakan oleh Imam Syafie. Berdasarkan dari semua fakta-fakta di atas adalah jelas tentang keraguan dan kemampuan beliau dalam menyampaikan ilmu dengan amanah dan jujur. Apatah lagi untuk menjadi seorang yang disifatkan oleh nabi "Ulamak itu pewaris nabi" . Menyembunyikan ilmu adalah adalah sesuatu perkara yang amat ditegah dalam Islam "sesiapa yang menyembunyi ilmu, akan dikekang (mulutnya) dengan kekangan api neraka" Di bawah panel kepilkan berkaitan perkara ini yang di bincangkan dan nas-nas berkenaannya untuk penambahan ilmu.... Ajaran yang di bawanya itu banyak membawa masaalah kepada penduduk Malaysia yang telah sebati dengan mengamalkan mazhab syafie. Mereka tidak "berlapang dada" dalam masaalah khilafiah, dan meletakkan perkara khilaf di tempat usul. Dan nak memaksa orang ramai ikut kehendak mereka. Ada di kalangan mereka melakukan perkara berikut:

1)- Bacaan ketika solat mereka membaca al-fatihah tanpa "Bismillah" termasuk pada solat Jumaat. Ini adalah perbuatan yang dah melampau dalam kalangan masyarakat Syafie dan pemerintah yang mengamalkan Mazhab Syafie. Jika mereka tinggal di India, Pakistan dll bolehlah buat demikian. sebab tak baca "Bismillah" hukumnya batal solat. Imam Syafie berpendapat Bismillah sebahagian dari fatihah. Ini boleh dianggap menentang pemerintah secara terang-terangan dan boleh menimbulkan fitnah di tengah-tengah masyarakat. Sedangkan mereka mendakwa mereka taat kepada pemerintah???

2)- Mengharamkan baca Yasin Malam Jumaat, sedangkan Nabi s.a.w pun tak pernah mengharamkan perbuatan itu. Dan tidak ada hadis Nabi mengharamkan ummatnya membaca Yasin pada bila-bila masa termasuk untuk membaca Yasin pada malam Jumaat sahaja. Jika Nabi tidak mengharamkannya (tiada hadis yang mengharamkannya) bagaimana mereka boleh kata ianya haram? Siapakah ikutan mereka?

3)-Tidak solat Qbliah sebelum Magrib, sedangkan ikut Mazhab Syafie ada solat sunat sebelumnya.

4)-Tidak solat Qbliah sebelum Jumaat, sedangkan ikut Mazhab Syafie ada solat sunat sebelumnya.

5)- Tak baca Qunut.

6)- Maulud Nabi dinggap bidaah sedangkan dalam kitab “IKTIDOK ASSIROT ALMUSTAQIM” (MENGIKUT JALAN YANG LURUS) KARANGAN IBN TAIMIYYAH MUKA SURAT 269 menyatakan maulid di bolehkan dan boleh pahala besar. Ini bertentangan dengan fahaman golongan yang mendakwa mengikut Ibn Taimiyyah dalam masaalah bidaah.

7). Mengharamkan penggunaan tasbih ketika berzikir dan menyatakan ianya termasuk dalam bidaah yang sesat di sisi golongan ini, bahkan ia boleh menyebabkan sesaorang masuk neraka kerana tasbih itu! (Alangkah ganjilnya kefahaman ini, seolah-olah menggunakan tasbih adalah maksiat besar!), sedangkan dalam Mazhab Syafie mengharuskannya ini kerana tiada satu hadis pun di mana Nabi s.a.w melarangnya (Kita hanya patuh kepada Syariat, Nabi s.a.w adalah pembawa syariat), dan para ulamak pun tidak berpendapat ianya adalah maksiat. Justeru di haruskan.

8)- Tak baca talkin, tahlil dan sebagainya. Lebih menarik mereka menyatakan tahlil dilarang oleh Imam Syafie, sedangkan di zaman Imam Syafie tiada tahlil. Imam Syafie hidup pada kurun ke-2 hijrah sedangkan tahlil di buat oleh ulamak Yaman dengan mengumpul zikir-zikir dari hadis-hadis Nabi s.a.w pada kurun ke-4 hijrah. Oleh itu hujah mereka bahawa Imam Syafie mengharamkan tahlil adalah satu pembohongan yang nyata. Masaalahnya ialah golongan seumpama ini meraka tidak menerima hujah ulamak lain walaupun hujah itu benar, mereka hanya kekal dalam fahaman Mereka sahaja walaupun pendapat mereka adalah lemah atau mempunyai hujah yang tidak merangkumi hadis-hadis sahih secara sempurna seperti kefahaman mereka tentang hadis bidaah yang akan dibincangkan nanti. Mereka akan tetap mempertahankan pendapat yang lemah itu (Alangkah ganjilnya sikap mereka ini!). Sedangkan Ibn Taimiah sendiri pun umpamanya dalam bukunya Iqtidak As-Sirat Al-Mustaqim membolehkan merayakan Maulud Nabi yang dianggap oleh mereka sebagai bidaaah, sesat dan masuk neraka. Adakah mereka hendak menuduh Ibn Taimiyyah (Guru mereka) dengan tuduhan ahli bidaah, ahli sesat dan ahli neraka?. Jika mereka menggap guru yang mereka sanjung sebagai ahli bidaah, ahli sesat dan ahli neraka (kerana membenarkan maulid) kenapa mereka menggunakan hujah dari seorang yang mereka anggap sebagai ahli bidaah, ahli sesat dan ahli neraka untuk mempertahankan pandangan mereka? dan banyak mengambil hujah/fatwa dari guru yang mengikut tuduhan mereka adalah ahli bidaah, ahli sesat dan ahli neraka?.

Di bawah ini ustaz sertakan perbahasan ASWJ dan isu yang timbul yang berkaitan dengan apa yang mereka bawa dan kesilapan fahaman mereka tersebut. Selain dari itu JAKIM telah mengharamkan buku-buku yang ditulis oleh mereka kerana terdapat pelbagai penyelewengan ilmiah yang dilakukan dan boleh menjerumus kepada kesesatan. ASWJ adalah satu lafaz yang berasal dari satu hadis dimana nabi S.A.W menyatakan bahawa umatnya akan berpecah kepada lebih 70 kumpulan, semua masuk neraka kecuali satu. Para sahabat bertanya "siapakah mereka?" Jawab baginda "Mereka yang mengikut aku dan sahabatku" dari hadis inilah keluarnya perkataan ASWJ. Sunnah merujuk kepada Nabi S.A.W manakala Jemaah merujuk Para Sahabat yang ramai. Jesteru sesiapa yang mengikut nabi dan sahabat akan selamat juga yang mengikut ulamak yang bersifat sebagai pewaris nabi. Daripada hadis di atas jelaslah bahawa hanya golongan yang mengikuti al-quran, hadis serta apa yang dibawa oleh para sahabat akan selamat dari api neraka. Jesteru itulah ramai kumpulan dikalangan umat Islam mendakwa mereka ASWJ. Namun hakikatnya hanya golongan yang berpegang dengan al-Quran dan hadis sebagaimana pegangan para sahabat akan selamat. Secara ringkasnya sesiapa yang mengikuti manhaj al-quran dan hadis akan selamat di dunia dan akhirat sebagaimana janji nabi S.A.W ".....kamu sekali-kali tidak akan sesat selama berpegang dengan keduanya, kitab Allah dan sunnahku" Apa yang berlaku dikalangan umat Islam ialah perbezaan pandangan/ tafsiran / kefahaman di dalam pentafsiran hadis nabi S.A.W dan nas al-Quran, INI TIDAK MENJEJASKAN MEREKA SEBAGAI ASWJ. Masaalah yang lebih kronik berlaku apabila satu kumpulan umat Islam mendakwa mereka ASWJ dan menafikan yang lain, ini jelas menunjukkan kedangkalan kefahaman mereka tentang perkara tersebut. Lebih-lebih lagi apabila ditambah dengan ketaksuban kepada kumpulan masing-masing serta masih memegang dengan "benang basah" walaupun jelas dalil-dalil syarak dan hadis tidak menyebelahi mereka. Banyak athar-athar selain hadis dan al-Quran yang mungkin tidak dikatahui oleh orang awam yang jalil dan tidak mendalami agama sehingga menyatakan sesuatu yang tidak benar tentang salafus soleh yang awal. Ustaz mencadangkan saudara cuba memahami contoh hadis di bawah dan fahami ertinya dengan dada yang terbuka untuk mendapatkan kebenaran walaupun ianya mungkin tidak sesuai dengan fahaman/ kepercayaan /arahan atau kehendak mana-mana individu sekalipun di atas mukabumi ini. Benar kata saudara bahawa kita wajib ikut Firman Allah dan Sabda Nabinya di sini saya bawakan bebarapa Isu mengenainya;

1)- Dimanakah Allah Jawapannya Allah WUJUD TIDAK BERTEMPAT. (Iaitu Tidak bertempat dengan tempat yang khusus) termasuk di atas langit, di atas Aaras dll sebab ayat Al-quraan jelas menyatakan “Dimana sahaja kamu berpaling kamu akan mengadap wajah Allah” dan “Kami lebih hampir denganmu dari urat darah kamu sendiri”. Sesiapa yang menolak ayat ini hukumnya kufur dan murtad dari agama Allah. BAHKAN ALLAH telah WUJUD sebelum dicipta tempat... Dalil nya Nabi bersabda
Hadis Bukari  no 3191
ﻛَﺎﻥَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻭَﻟَﻢْ ﻳَﻜُﻦْ ﺷَﻲْﺀٌ ﻏَﻴْﺮُﻩُ
“Adalah Allah dan tidak ada sesuatupun selainnya” – Bukhari Jelas di dalam hadis ini menyatakan Allah wujud secara Qadim sebelum adanya langit atau aras atau makhluk atau tempat. Allah yang mencipta tempat dan Allah tidak memerlukan tempat. Berkata Imam Baihaqi dalam kitabnya “Asmaa’ was sifat” : Berhujah sebahagian sahabat kami pada menafikan tempat bagi Allah dengan dalil sabda Nabi “Engkaulah Allah tuhan yang zahir dan tidak ada atasmu sesuatu, Engkaulah Allah tuhan yang batin dan tidak ada sebelummu sesuatu” Apabila tiada atasnya sesuatu dan sebelumnya sesuatu maka ini beerti tiada “makan” baginya. Hadis ini juga menolak Jihah bagi Allah. Berkata Saidina Ali “Adalah Allah telah wujud (secara Azali) dan tidak ada “makan” baginya, dan Allah sekarang berada sebagaimana keadaannya dahulu” Diriwayat oleh Abu Mansur Al-Bagdadi. Berkata Syeikh Zainuddin As-Shahir Ibn Nujaim Al-Hanafi katanya “ Dan KUFUR orang yang mengithbatkan “makan” bagi Allah taala, Jika dia berkata Allah di langit, sekiranya dia berniat untuk menyatakan sebagaimana yang dinyatakan di dalam hadis maka tidak kufur, tetapi jika maksudkan “makan” maka kufur”. Lihatlah Firman-Firman Allah APABILA dikumpulkan adalah jelas bahawa Allah WUJUD TIDAK BERTEMPAT. Ini dijelaskan dgn nas yg banyak termasuk nas di langit dan Arash, Begitu juga nas hadis-hadis sahih begitu juga kata-kata Saidina Ali dll yg dikumpul bersama, adalah jelas. Oleh itu sesiapa yang mengikuti salaf wajib beriman dengan semua ayat Al-Quran termasuk yang menyatakan “Dimana sahaja kamu berpaling kamu akan mengadap wajah Allah” dan “Kami lebih hampir denganmu dari urat darah kamu sendiri”. Bagaimana keadaannya hanya Allah yang tahu.
Inilah juga yg dinyatakan oleh Imam Syafie DLM KITAB nya الفقه الاكبر 

2)- Tentang sifat Allah. Ia boleh ditakwil dan boleh dikekalkan. Ada tempat yang wajib di takwil berdasarkan apa yang Rasullah s.a.w dan para sahabat memahaminya iaitu Firman Allah “segala sesuatu diatasnya hancur dan yang kekal hanyalah “wajah” tuhanmu yang mempunyai keagungan dan kemuliaan” Perkataan “wajah” itu difahami oleh Rasullah s.a.w dan para sahabat sebagai zat bukan hanya “wajah” tanpa di takwil. Jika tanpa takwil mungkin ada yang mamahami bahawa semua yang selain “wajah” adalah hancur termasuk “yad” dan “rijl” yang ada pada Allah dan disebut di dalam Hadis dan Al-Quran. Jika ini yang difahami maka ianya akan membawa kepada KEKUFURAN. Rasullah s.a.w dan para sahabat memahami “wajah” itu adalah zat Allah dalilnya ketika turun Firman Allah “Palingkanlah “wajah” kamu ke arah Masjidil Haram” Rasullah s.a.w terus berpaling dengan segenap tubuhnya bukan sekadar wajahnya sahaja. Sebab rasullah s.a.w faham bahawa “wajah” bermaksud zat. Dan semua para sahabat tidak bertanya Rasullah s.a.w kenapa tidak “wajah” sahaja?. Sebagaimana fahaman sebahagian manusia hari ini yang menyatakan wajah hanyalah wajah sahaja. Jesteru itu kita wajib beriman dengan apa yang datang dari Allah dan nabinya jangan kita ikut ulamak dalam perkara yang jelas bercanggah dengan nas syarak , beriman secara membabi buta tanpa dalil yang pasti bahkan bercanggah dengan nas yang sorih. Contohnya apabila manusia kata tuhan di langit adakah kita hendak menolak firman Allah “Dimana sahaja kamu berpaling kamu akan mengadap wajah Allah” dan “Kami lebih hampir denganmu dari urat darah kamu sendiri”. Jika sekadar percaya Allah di langit dan menolak dua firman Allah itu, adakah dia masih seorang Islam? Yang mana pilihan kita pandangan manusia atau Al-Quran?. Ulamak mentakwilkan yang di maksudkan dengan langit itu ialah lambang ketinggian dan kemuliaan. Bukannya percaya sebahagian nas dan menolak nas yang lain. Ikutlah mana-mana pandangan ulamak yang tidak bercanggah dengan nas samaada dengan takwil atau hakiki, jika bercanggah WAJIB ditinggalkan.

3)- Akidah As-Syairiyyah dan Isu sampai pahala selepas mati Aqidah al-Asy'ariyah adalah pegangan yang banyak di pegang oleh masyarakat di Malaysia hampir 100% muslim di Malaysia. Akidah ini adalah benar dan ulamak tidak mengkufurkannya. Ayat Al-Quran jelas tentang Allah ada di mana-mana. Menolak ayat ini adalah kufur sebab kita manusia beriman wajib 100% beriman dengan Al-Quran. Berkenaan Imam Mekah atau mufti Mekah ustaz percaya dia seorang yang beriman dan bagaimana kepercayaan nya itu atau apa mazhabnya ustaz tidak tahu.Tetapi ustaz yakin Imam dan Mufti Mekah pasti tidak menolak ayat Al-Quran "Dimana kamu berpaling kamu akan mengadap wajah Allah" atau ayat-ayat lain seumpamanya. Samaada dia mentakwil dengan ilmu Allah atau dia kekalkan dengan wajah Allah kesemua ijtihat tersebut adalah benar. Jika sekiranya Imam Mekah atau Madinah mentakwilkan ayat "Dimana kamu berpaling kamu akan mengadap wajah Allah" dengan ilmu, maka ianya adalah sama dengan takwilan seperti yang di takwil oleh sebahagian mutaakhirin dengan mentakwilkan "Tangan / Yad" dengan kekuasaan dan sebagainya lagi. Mentakwilkan apa-apa sifat Allah dengan sesuatu yang sesuai dengan penggunaan bahasa Arab tidak akan menyebabkan sesaorang itu kufur kepada Allah! Yang menjadi kufur ialah contohnya apabila sesaorang dibacakan kepadanya ayat "Dimana kamu berpaling kamu akan mengadap wajah Allah" maka dia menolak ayat itu dan menyatakan Allah tetap dilangit (dan dalam masa yang sama menolak nas Al-Quran yang sahih tersebut, Ini kufur secara ittifaq ulamak). Sebab itulah seorang yang alim mereka tidak akan membangkang apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat al-quran sebab mereka tahu itu adalah benar dan muktamad. Yang jadi masaalah ialah masyarakat awam yang mengikut akidah secara membabi buta. Semaga Allah mengampuni mereka atas kejahilan mereka. Kita hanya menyeru mereka kepada Nas Al-Quran sahaja. Dibawah adalah pendapat Imam As-Syafie tentang Allah dan tempat: Imam al-Syafi‘iyy rahimahullah yang wafat pada 204 Hijriyyah pernah berkata: “Dalil bahawa Allah wujud tanpa tempat adalah Allah Ta’ala telah wujud dan tempat pula belum wujud, kemudian Allah mencipta tempat dan Allah tetap pada sifat-Nya yang azali sebelum terciptanya tempat, maka tidak harus berlaku perubahan pada zat-Nya dan begitu juga tiada pertukaran pada sifat-Nya”. Kenyataan Imam al-Syafi‘iyy tadi dinyatakan oleh Imam al-Hafiz Murtadha az-Zabidyy di dalam kitab beliau berjudul Ithaf al-Sadah al-Muttaqin juzuk kedua, mukasurat 36 Dar al-Kutub al ‘Ilmiyyah. Nabi Bersabda "Sesiapa yang berijtihad, lalu ijtihadnya benar akan dapat dua pahala, Sesiapa yang berijtihad, lalu ijtihadnya silap akan dapat satu pahala" Dari hadis sahih ini jelas menunjukkan Ijtihad tidak akan memasukkan sesaorang ke dalam neraka. Selain itu saudara tidak berhak untuk memaksa orang lain supaya ikut dengan ijtihad yang dipegang oleh orang lain (atau ijtihad yang dipegang saudara sendiri). Sebab itulah ulamak menyatakan "Ijtihad tidak boleh membatalkan ijtihad yang lain". Selama mana berpegang dengan Al-Quraan dan hadis maka mereka adalah benar. Contoh Ijtihad yang lain adalah seumpama ulamak yang berijtihad bahawa pahala baca quraan atau tahlil sampai kepada si mati dalilny seperti berikut:

1)- Firman Allah “Dan golongan yang datang kemudian selepas itu berkata “Ya Allah tuhan kami ampunilah kami dan saudara kami yang beriman sebelum kami.....” Jika doa yang diajar oleh Allah di dalam al-Quraan ini boleh memberi manfaat untuk si mati, inikan pula bacaan Al-Quran untuk saudara muslim yang lain.

2)- Nabi mengerat pelepah tamar dan di pacak dikubur. Jika zikir dari pelepah tamar memberi manfaat inikan pula bacaan Al-Quraan dari seorang muslim kepada saudara muslim yang lain walaupun tiada pertalian darah.

3)- Nabi bersabda "Mintalah keampunan untuk saudara kamu, sesungguhnya dia sekarang sedang disoal (oleh malaikat)" jika minta ampun dan doa dari orang asing boleh memberi manfaat untuk si mati walaupun bukan dari amalannya, inikan pula bacaan Al-Quraan dari seorang muslim kepada saudara muslim yang lain walaupun tiada pertalian darah.

4)- Perbuatan Salaf antaranya Aisah Ummul Mukminin membebaskan hamba untuk saudaranya yang mati.

5)- 4 mazhab Hanafi, Maliki, Syafie dan Hambali menyatakan boleh seorang muslim membuat haji utk muslim yang lain walaupun tiada pertalian darah. Berdasarkan ijtihad empat Imam mazhab ini yang diambil dari nas hadis adalah jelas bahawa pahala akan diperolehi oleh si mati. Begitu juga dengan membaca Al-Quran atau tahlil dan sebagainya untuk si mati.
Banyak lagi hujah-hujah lain selain dari dalil di atas. Adapun ayat-ayat Al-Quraan / hadis yang saudara nyatakan itu adalah secara umum sahaja sebagaimana takwilan oleh sebahagian ulamak. Contoh yang hampir sama hadis 10 orang yang dijamin syurga. Sebenarnya bukan hanya 10 orang yang dijamin syurga, ramai yang di jamin syurga oleh nabi s.a.w. Cuma 10 orang itu hanyalah yang disebut dalam satu hadis secara sekaligus. Sebab itulah kefahaman yang mendalam berkaitan hadis dan Al-Quran adalah amat diperlukan. Jesteru menggali dalil-dalil syariah adalah amat penting. Dalam hadis Qudsi Allah bersabda " Aku mengikut sangkaan hambaku terhadapku, Maka hendaklah bersangka baik terhadapku". Berdasarkan hujah-hujah yang banyak ustaz bersangka Allah akan menyampaikan pahala tersebut. Ini adalah sebahagian dari kemurahan sifatnya. tiada yang mustahil baginya. Jika saudara bersangka Allah tidak akan menyampaikan pahala dengan hujah-hujah saudara, saya yakin dan pasti Allah akan melayan saudara sebagaimana sangkaan saudara itu sebagaimana hadis sahih di atas. Semoga keyakin/ sangkaan saudara akan dikabulkan Allah untuk diri saudara. Amin ya Rabbal Alamin.

4) – Berkenaan Bidaah, perhatikan hadis dan ayat Al-Quran di dalamnya berkaitan Bidaah. (Bezakan antara nas dan bukan nas) Apa yang saudara sebutkan itu hanyalah kata-kata manusia atau seorang ulamak. (Isu ini timbul dari pertanyaan : Bukan tak ada dalil yg menghalang bacaan yassin mlm jumaat tapi tak ada sunnah(tiada contoh dari nabi walaupun dipandang baik kerana baca quraan).itulah sebabnya perlu dijauhkan.Fahaman maksud bidaah oleh ulamak sunnah(salaf) seperti ibnu taimiyyah,imam as-syathibi,imam al-hafizh ibnu rajab al-hanbali ,imam sufyan ats-tsaury adalah berlainan dari apa yg ustaz jelaskan.) Jawapannya : Apa yang saudara sebutkan itu hanyalah kata-kata manusia atau seorang ulamak Kenapa saudara tak ambil takrif bidaah (pengertiannya atau pembahagiannya) di sisi Imam Syafie atau Imam Nawawi atau Ibn Hajar Al-Asqalani atau Ibn Hajar Al-Haitami atau Imam Al-Ghazali atau Imam Izzuddin bin Abd Salam dan ramai lagi imam-imam yang lain?.... atau kata-kata Saidina Umar sendiri (antara salaf / solafussoleh yang paling hebat)? Kenapa? Walau apa pun, semua kata-kata atau pandangan atau ijtihad manusia boleh diterima (Jika bertepatan dengan nas) dan boleh di tolak (Jika menyalahi nas) kecuali Al-Quran dan Hadis. jesteru itu saya menyeru saudara agar kembali kepada al-quran dan hadis nabi s.a.w. Adakah contoh nabi dan para sahabat membaca Al-Quran yang ada baris dan ada titik? Adakah membaca Al-quran satu maksiat atau satu Ibadat? Kenapa saudara tidak solat di atas pasir sebab itulah contoh yang ada dari Nabi s.a.w?. Bukankah ada yang berhujah tidak boleh guna tasbih ketika berzikir sebab Ibn Umar ada melarangnya sebab bidaah? Jika hujah ini di ikuti maka sudah pasti Ibn Umar akan lebih marah orang meletakkan baris dan titik pada Al-Quraan!!!. Meletakkan titik dan baris pada Al-Quran dalam ungkapan lain ialah menconteng Al-Quran dengan sesuatu yang lain yang bukan dari Al-Quran. Sebab itulah terdapat fatwa ulamak tentang hukum menulis / menconteng / menanda sesuatu pada Al-Quran. Ibn Umar sudah pasti amat marah sesiapa yang sanggup menconteng Al-Quran, menconteng kitab suci yang paling mulia, kitab yang tidak ada tandingannya, yang merupakan sumber hukum utama ummat Islam. Ini kerana Ibn Umar boleh membaca Al-Quran dengan sempurna tanpa diletakkan baris dan titik (tanpa sebarang contengan), begitu juga Salman Al-Farisi seorang ajam seperti saya dan saudara mampu membaca Al-Quran dengan baik tanpa baris dan titik! (disinilah penting nya belajar), begitu juga sahabat-sahabat yang lain. Jesteru itu membuat sebarang catatan / penulisan pada Al-Quran adalah satu bidaah yang amat besar dan tidak pernah dilakukan oleh Nabi dan Ibn Umar. Persoalannya: Mampukah saudara membaca Al-Quraan tanpa baris dan titik? bolehkah saudara bezakan antara huruf "ba" "ta" “tha” “nun” "ya" begitu juga “jim” “ha” “kha” dll? Tidak ada contoh dari Nabi s.a.w adalah hujah yang lemah untuk menjadikannya sebagai larangan dan untuk dipegang apabila kita memahami hadis-hadis sahih di bawah. Terlalu banyak perkara yang tidak pernah dilakukan oleh nabi s.a.w yang mana kita lakukannya dalam kehidupan kita seharian. Larangan terhasil di sisi syarak apabila ada tegahan dari Al-Quran atau hadis nabi s.a.w berdasrkan nas yang sahih. Kenapa kita tidak berzina, mencuri, minum arak, makan babi, bangkai, berjudi, tidak dibenarkan kahwin lebih dari empat bagi yang mampu dll? Semuanya kerana ada larangan dan dalil yang sorih dari nas syarak dan bukan kerana Nabi meninggalkannya dan tidak melakukannya!. Mengulas lanjut pengharaman menconteng Al-Quran dengan sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh sahabat begitu juga pengharaman menggunakan tasbih di atas maka sudah tentu meletakkan baris dan titik pada Al-Quran adalah satu bidaah yang jelas dilarang oleh Ibn Umar walaupun manusia mengganggapnya sebagai baik. Ibn Umar tidak perlu kepada baris dan titik untuk membaca Al-Quraan jesteru itu kenapa perlu diletakkannya?. Sebab ianya tidak pernah dilakukan oleh nabi dan tidak ada sunnah pada perbuatan itu. Yang ada hanyalah Nabi memerintahkan suruh belajar dalam hadis yang banyak. Antaranya contohnya bagaimana tawanan perang Badar di tawarkan pembebasan jika mengajar 10 orang anak orang Islam sehingga pandai membaca dan menulis (termasuk pandai membaca Al-Quran yang tanpa baris dan titik). Jesteru, kita juga perlu belajar sebagaimana mereka belajar, jika mereka boleh kenapa kita tidak boleh?. Jesteru demi menyesuaikan hujah ini dengan pandangan saudara di atas adakah kita perlu menyatakan bahawa kita ummat Islam hari ini perlu meninggalkan pembacaan Al-Quran yang ada baris dan titik? (sebab tiada sunnah! Dan Ibn Umar pun tak buat! Menggunakan tasbih untuk berzikir pun Ibn Umar Marah, Inikan pula menconteng Al-Quran!). Adakah membaca Al-Quran yang ada baris dan titik adalah satu bidaah yang sesat dan akan masuk neraka apabila membacanya? (sebab semua bidaah adalah sesat dan akan masuk neraka!). Walaupun ianya di anggap baik oleh semua ummat manusia di atas muka bumi ini? (Ianya baik kerana memudahkan pembacaan Al-Quran, Sebenarnya kita masih boleh membaca Al-Quran walaupun tiada baris dan titik seumpama kita boleh membaca surah Al-Fatihah sahaja atau boleh juga membaca ayat-ayat lazim walaupun di buang baris dan titik. Ini menunjukkan kita boleh melakukannya dan tidak perlu kepada baris dan titik Cuma perlu lebih lagi pembelajarannya untuk diluaskan pembacaannya sebagaimana yang pernah dibuat oleh Salman Al-Farisi salah seorang yang bukan Arab dari sahabat nabi atau anak-anak sahabat yang lain. Walaupun titik dan baris itu baik kita perlu menolaknya!) Dan walaupun tidak ada larangan dari nabi s.a.w untuk kita lakukanya sebab tidak bercanggah dengan nas syarak!, yang penting tiada sunnah!. Kita mesti mempertahankan nya dengan “tidak boleh”??. Adakah ini sikap pilihan kita??? Adakah takrif Bidaah yang lebih penting atau nas Al-Quran dan Hadis??? yang mana pilihan saudara?? sila fahami nas-nas dibawah dengan dada yang lapang tanpa taksub kepada yang lain kecuali Al-Quran dan Sunnah sahaja. Pendapat saudara ada kekurangannya dan ianya bertentangan dengan nas yang sahih. Nabi S.A.W bersabda ertinya "setiap perkara bidaah adalah SESAT, dan setiap yang SESAT akan masuk neraka" hadis ini adalah sebuah hadis yang umum ertinya. Hadis ini dikhususkan dengan beberapa hadis lain antaranya "kamu lebih mengentahui tentang urusan dunia kamu" Ini mengecualikan urusan dunia dari bidaah. Begitu juga hadis ini dikhususkan dengan hadis sahih yang lain iaitu nabi s.a.w bersabda maksudnya "Aku tinggalkan kepada kamu dua perkara, Kamu tidak akan SESAT selama mana kamu berpegang dengan keduanya iaitu kitab Allah dan sunnahku" apabila dihimpunkan hadis-hadis ini jelas menunjukkan bahawa hanya Bidaah yang bercanggah denagan Al-Quran dan Hadis sahaja yang dilarang, manakala bidaah yang tidak bercanggah bercangah dengan Al-Quran dan hadis adalah dibolehkan berdasarkan nas dari hadis sahih. Dengan erti kata yang lain hadis bidaah akan memberi makna seperti berikut "Setiap perkara bidaah adalah SESAT (iaitu yang bercanggah dengan Al-Quran dan Hadis), dan setiap yang SESAT (iaitu yang bercanggah dengan Al-Quran dan Hadis) akan masuk neraka" Dalam keadaan seperti inilah baharulah kita akan mendapat erti hadis bidaah dengan sempurna. Jestru itulah bidaah seperti membaca yasin malam jumaat, menyambut maulid rasul dan lain-lain adalah dibolehkan dan di izinkan oleh syarak kerana ianya tidak dilarang oleh nabi S.A.W atau ditegah di dalam Al-Quran. Sila rerungkan perkataan SESAT dalam dua hadis sahih di atas tersebut dan himpunkan ertinya untuk mendapatkan makna hadis yang betul. manakala hujah saudara tentang Ibnu Umar berkata:Setiap bidaah adalah sesat meskipun manusia memandangnya baik. - riwayat al-lalika-i dlm syarah ushuul i'tiqaad ASWJ(no126),Ibnu baththah al-ukbari dalam al-ibanah(no 205),lihat ilmu ushuulil bidaah(hal 92) adalah terlalu mudah untuk di jawab kerana Saidina Umar dalam Riwayat Bukhari satu riwayat tertinggi dalam Ilmu hadis dimana Saidina Umar berkata "INILAH SEBAIK-BAIK BIDAAH". Oleh itu kata-kata ibn umar dan kata-kata lain seumpamanya hendaklah ditakwil seperti berikut "Setiap bidaah adalah sesat (iaitu yang bercanggah dengan Al-Quran dan Hadis), meskipun manusia memandangnya baik" .Pada ketika ini baharulah kata-kata tersebut tidak bercanggah dengan nas-nas hukum, hadis sahih dan athar lain yang sahih. Kenapa kita perlu mempertahankan pendapat kita yang salah sedangkan jelas ianya bercanggah dengan hadis-hadis yang sahih?. Adakah pendapat kita yang penting atau hadis sahih?. Hadis "Aku tinggalkan kepada kamu dua perkara, Kamu tidak akan SESAT selama mana kamu berpegang dengan keduanya iaitu kitab Allah dan sunnahku" adalah berkaitan dengan urusan ibadat bukannya dengan urusan dunia semata-mata. Kerana "karinah" yang ada di dalam hadis tersebut iaitu Al-Quran dan Hadis adalah berkaitan dengan urusan ibadat. Jesteru itu ini jelas menunjukkan pendapat saudara adalah amat silap dan bertentangan dengan hadis sahih. Saya menyeru saudara dan golongan lain yang seumpama saudara supaya kembali kepada nas Al-Quran dan hadis sahih. Jika ada yang menyatakan bahawa kata-kata Saidina Umar dan Imam Syafie tentang bidaah hanyalah dari segi bahasa sahaja, maka mereka telah silap sebab tidak ada “karinah” dalam kenyataan ke dua-dua nya yang menunjukkan penggunaannya adalah dari segi bahasa sahaja. Saidina Umar atau Imam Syafie pun tidak menyatakan ianya hanyalah dari segi bahasa sahaja. Oleh itu yang tinggal hanyalah pada asal penggunaan perkataan nya iaitu istilah sahaja. Ini sesuai dengan keterangan dua hadis bidaah dia atas atau yang lain seumpamanya yang difahami oleh Saidina Umar dan Imam Syafie. Yang memahami nas hadis-hadis dengan baik dan sempurna. Inilah yang difahami oleh Imam yang ramai termasuk Imam Ibn Hajar Al-Asqalani yang mentafsirnya dalam kitab Fathul Bari. Kaedah Fiqh menyatakan "Apa yang ditinggalkan oleh nabi tidak menandakan ianya haram".(“At-tarku la yadullu ala at-tahrim”). Cuba saudara renungkan Firman Allah AL-MAIDAH 101 {101} Wahai orang yang beriman! Janganlah kamu bertanyakan perkara-perkara yang jika diterangkan kepada kamu akan menyusahkan kamu, dan jika kamu bertanya mengenainya ketika diturunkan Al-Qur'an, tentulah akan diterangkan kepadamu. Allah maafkan kamu dari perkara-perkara itu; kerana Allah Maha Pengampun, lagi Maha Penyabar. Ringkasnya ayat ini menyatakan bahawa ada perkara yang ditinggalkan oleh Allah dan nabi untuk kita semua. Dan di dalam perkara inilah terletaknya ijtihad untuk umat ini. Secara umumnya ianya adalah dibenarkan dan di maafkan oleh Allah. Asbabbunnuzul ayat ini juga berkaitan pertanyaan tentang haji, dan haji adalah satu ibadat dari Allah. Di dalam perkara yang tidak mempunyai nas yang jelas ulamak menggunakan pelbagai perkara untuk mengeluarkan sesuatu hukum samaada diambil dari pengertian umum al-quran dan hadis, ijmak, kias, istihsan dan sebagainya lagi. Ini sesuai dengan kedudukan ulamak yang dinyatakan oleh nabi s.a.w “Ulamak adalah pewaris para nabi”.
Kita perlu memperbetulkan fahaman kita agar selari dengan al-Quran dan hadis, ini akan menjamin kita dan keselamatan kita di dunia dan akhirat sebagaimana janji nabi S.A.W. Kita perlu faham dalam syariaat ada tiga bahagian yang paling utama;

1)- Apa yang nabi suruh wajib kita buat.
2)- Apa yang nabi larang, haram dibuat.
3)- Apa yang nabi tinggalkan (Nabi tak suruh dan nabi tak larang).

Di dalam perkara yang ketiga inilah ada bidaah Hasanah Dan Bidaah Dhalalah. Pembahagian ini di sebut dalam hadis-hadis dan nas yang banyak antaranya Nabi bersabda "TINGGALKAN APA YANG AKU TINGGALKAN UNTUK KAMU, sesungguhnya telah musnah kaum sebelum kamu dengan sebab banyak bertanya mereka itu terhadap nabi mereka. Apabila aku perintahkan kamu dengan sesuatu maka lakukanlah mengikut kemampuan kamu, apabila aku larang maka tinggalkan".

Bahagian yang ketiga ini (Nabi tak suruh dan nabi tak larang) juga disebut sebagai "Almaskut Anha" iaitu apa yang ditinggalkan oleh nabi.

Dalam hadis sahih jelas dinyatakan siapa yang betul ijtihadnya akan dapat dua pahala manakala yang silap akan dapat satu pahala. Nabi tidak menyatakan siapa yang silap dalam ijtihad masuk neraka. Masuk neraka hanyalah dengan sebab melakukan maksiat atau bidaah yang bercanggah dengan Al-Quran dan sunnah. Manakala bidaah yang tidak bercanggah dengan Al-Quran adalah dibenarkan oleh nas syarak yang banyak.

Imam syafie sendiri menyatakan Bidaah itu terbahagi kepada dua iaitu;
1)-Bidaah yang sesat / dicela iaitu yg bercanggah quraan dan hadis
2)- Bidaah yang di bolehkan / terpuji iaitu yg menepati nas Al-Quraan dan hadis.

Ini adalah berdasarkan hadis Nabi s.a.w yang bersabda "Kamu TIDAK AKAN SESAT SELAMA-LAMANYA, selama mana kamu berpegang dengan Al-Quran dan Sunnah" . Imam Syafie memahami bahawa hadis bidaah "Setiap bidaah adalah SESAT, dan setiap yang SESAT masuk neraka" dikhususkan dengan hadis Nabi Bersabda "Kamu TIDAK AKAN SESAT selama mana kamu berpegang dengan Al-Quran dan Sunnah". Perkaitan antara dua hadis ini adalah jelas. Sila renung perkataan SESAT dalam kedua-dua hadis di atas, satu hadis menjelaskan apa yang dimaksudkan dengan SESAT dalam satu hadis lagi. Dari dua hadis di atas adalah jelas bahawa bidaah yang SESAT adalah yang bercanggah dgn Al-Quran dan Hadis, manakala bidaah yang tidak bercanggah dengan Al-Quran dan Hadis adalah TIDAK SESAT. Ini juga di fahami oleh Imam Izzuddin dan Imam Nawawi dan sebagainya yang membahagikan bidaah kepada 5 bahagian. Kefahaman Imam syafie ini adalah amat jauh berbeza bahkan bertentangan dengan pendapat yang menyatakan semua bidaah adalah sesat yang merupakan kefahaman yang "nakis" (kefahaman tidak mendalam) tentang hadis nabi s.a.w. Apabila kita menghayati hadis sahih "Kamu TIDAK AKAN SESAT selama mana kamu berpegang dengan Al-Quran dan Sunnah" maka kita akan dapati rasullah s.a.w menggunakan lafaz "LAN" yang memberi erti "kamu selama-lamanya tidak akan sesat". Orang yang mempelajari bahasa arab akan faham tentang perbezaan antara "LAN" dengan " LA" dengan mudah. Jesteru itu apabila sesaorang menyatakan perbuatan seperti membaca YASIN tiap-tiap malam jumaat adalah haram maka kita perlu bertanya mereka kembali dimanakah dalil nabi menyatakan bahawa baca Yasin tiap-tiap malam jumaat adalah haram? Perlu diingat bahawa halal dan haram adalah milik Allah oleh itu jangan kita menjadi seorang pendusta kepada Allah s.w.a. tanpa dalil yang sahih. Pendustaan terhadap Allah s.w.a adalah amat berat hukumannya. Berdusta terhadap Nabi s.a.w sudah cukup untuk melayakkan sesaorang menempah neraka Allah dengan pasti. Sabda Nabi s.a.w “Sesiapa yang berdusta terhadapku dengan sengaja, maka tempatnya adalah di dalam neraka”. Allah melarang kita menyatakan halal dan haram di dalam perkara yang tidak dinyatakannya sedemikian atau tanpa dalil dari Allah dan Rasulnya, ianya adalah sebagai satu pembohongan terhadap Allah tuhan sekelian alam, tentang perkara ini Allah berfirman: "Jangan kamu katakan apa diucapkan oleh lidah kamu yang dusta, ini halal dan ini haram, untuk melakukan pembohongan terhadap (agama)Allah dengan pendustaan. sesungguhnya mereka yang melakukan pendustaan terhadap Allah tidak akan berjaya" Ringkasnya pendapat saudara tentang bidaah adalah bercanggah dengan nas yang sahih. Jesteru itu saya mencadangkan saudara meninggalkan fahaman yang bercanggah dengan nas yang sahih dan kembali kepada nas yang betul untuk keselamatan dunia dan akhirat serta tidak berdusta terhadap Allah dan Rasulnya.

Tambahan ;

Saya pernah terbaca ashab Syafie menyatakan....  Imam syafie berhujah dgn hadis ini

من عمل عملاً ليس عليه أمرنا فهو رد

Untuk menunjukkan adanya bidaah yg dibenarkan di sisi syarak. 

YG BERCANGGAH DGN "AMRUNA" IAITU AL-QURAN DAN HADIS DI TOLAK.
Adapun perkara yang
TIDAK BERCANGGAH DI TERIMA.

Monday, August 8, 2016

Penjelasan lengkap tentang WAHABI@SALAFI oleh Syeikh Nuruddin Al Banjari

Penjelasan/Pencerahan yg lengkap dan sangat baik tentang WAHABI@SALAFI WAHABI oleh Syeikh Nuruddin Al Banjari...

-Apakah kira seseorg yg mengusul pandangan bukan dari mazhab dia maka akan terkeluar dari mazhab tersebut..

-Mazhab ini adalah suatu aliran..

-Jika kita berlatar belakang kan Mazhab Syafiee & ada sesetengah masalah² trtentu & sesuai dgn tuntutan keperluan kita brpindah / bertaqlid pd mazhab lain apakah kita langsung brtukar mazhab yg lain??...

-Kita tidak brtukar mazhab lain..Tetap bermazhab Syafiee..

-Masyarakat memberi 1 pandangan/tanggapan pd org² yg ekstrim, suka kufur mengkufurkan, sesat menyesatkan org lain & kita labelkan org itu dgn panggilan WAHABI. ADAKAH ITU TEPAT & BETUL????..

-Tidak mnjadi Hanbali kita jika kita ikut beberapa pandangan dlm mazhab² Hanbali..begitu juga pd mazhab² yg lain..

-Apakah seperti itu halnya di nusantara sesetengah nya mengagumi pandangan dari Muhammad bin Abdul Wahab..

-Apakah dia mnjadi WAHABI atau tetap saja dia sorg yg bermazhab Syafiee..

-Untuk diketahui :-
 
1)SALAFI/WAHABI itu bukan mazhab..

2)Ia berbeza dgn mazhab² empat yg ada dari A→Z...

3)Kita tak boleh mengatakan kita keluar dari mazhab disebabkan hanya ada beberapa masalah hukum yg kita tak boleh komitmen dlm mazhab Imam Syafiee r.a..

-Mengapa masyarakat skrg melemparkan & memberi jolokan kpd org yg ekstrim itu digelar WAHABI/SALAFI..

-WAHABI/SALAFI itu bkn mazhab tp hanya 1 pandangan..

-Ulama2 WAHABI di sana kebanyakannya bermazhab Hanbali..jadi mengapa mereka diberi gelaran tambahan iaitu WAHABI..

-Kerana mereka yg mengasuh pandangan WAHABI..

-Diberi contoh org yg keluar dakwah digelar jemaah TABLIGH walhal mereka tetap berpegang pd mazhab Syafiee..

-Mereka digelar jemaah TABLIGH kerana mereka mengasuh cara org TABLIGH dakwah iaitu dgn cara dari rumah ke rumah dan masjid ke masjid..

-JADI MENGAPA KALIAN MARAH BILA KALIAN DIPANGGIL DENGAN GELARAN WAHABI KERNA KALIAN YG MENGASUH PANDANGAN WAHABI..

-Yg mengharamkan TAWASSUL siapa??..yg mengharamkan ziarah kubur & makam nabi siapa???..
(4mazhab tidak mengharamkannya)..

-Yg mengatakan berziarah ke Madinah utk tujuan ziarah kepada RASULULLAH SAW itu adalah haram & bertawassul pd BAGINDA SAW adalah syirik itu adalah WAHABI punya pandangan..

-Jadi kalian jgn berkecil hati atau kecewa bila kami gelarkan anda WAHABI kerna kalian yg mengasuh pandangan ekstrim seperti itu..

-Jumhur ulama tidak mengkafirkan org yg bertawasul & tidak mengharamkan berziarah makam RASULULLAH SAW..

-Kalau kalian tak mahu tidak kisah tapi jgn smpai menyesat kan & mengharamkan  ziarah semacam itu..

-Semua jumhur ulama 4mazhab membenarkan kita menyanjung BAGINDA SAW..

-Jadi supaya sahabat2 kita yg mengasuh fahaman yg ekstrim itu  yg dgn org ramai dikafirkan kerna tawasul, yg diharamkan kerna ziarah kubur, yg ramai diharamkan kerna tahlil & talqin..

-Jadi restulah kalian dgn gelaran & jolokan yg diberi iaitu kumpulan WAHABI..

-Jadi jgn tersinggung jika kalian digelar WAHABI jika kalian menyokong pandangan² mereka ...

CIRI-CIRI GOLONGAN SALAFIYYAH WAHHABIYYAH(WAHABI)

AQIDAH

1.Membahagikan Tawhid kepada 3 Kategori

(i)Tawhid Rububiyyah: Dengan tawhid ini, mereka mengatakan bahawa kaum musyrik Mekah dan orang-orang kafir juga mempunyai tawhid.
(ii)Tawhid Uluhiyyah: Dengan tawhid ini, mereka menafikan tawhid umat Islam yang bertawassul, beristigathah dan bertabarruk sedangkan ketiga-tiga perkara tersebut diterima oleh majoriti ulama’ Islam khasnya ulama’ empat mazhab.
(iii)Tawhid Asma’ dan Sifat: Tawhid versi mereka ini boleh menjerumuskan seseorang ke lembah tashbih dan tajsim

i. Menterjemahkan istawa sebagai bersemayam/bersila
ii. Merterjemahkan yad sebagai tangan
iii. Menterjemahkan wajh sebagai muka
iv. Menisbahkan jihah (arah) kepada Allah (arah atas – jihah ‘ulya)
v. Menterjemah janb sebagai lambung/rusuk
vi. Menterjemah nuzul sebagai turun dengan zat
vii. Menterjemah saq sebagai betis
viii. Menterjemah asabi’ sebagai jari-jari, dll
ix. Menyatakan bahawa Allah SWT mempunyai "surah" atau rupa.
x. Menambah bi zatihi haqiqatan [dengan zat secara hakikat] di akhir setiap ayat-ayat mutashabihat, sedangkan penambahan itu tidak ada di dalam al-Qur'an dan al-Sunnah. Imam al-Zahabi sendiri mengkritik gurunya, Ibnu Taymiyyah berkenaan masalah ini di dalam Siyar A'lam al-Nubala' [Rujuk kitab yang ditahqiq oleh bukan Wahhabi kerana Wahhabi membuang kritikan ini dalam terbitan mereka]
xi. Sebahagian golongan Mujassimah menyatakan bahawa Allah (Rujuk Kitab Ibthal al-Ta'wilat oleh Abu Ya'la al-Farra' yang telah diterbitkan semula oleh "tangan-tangan Tajsim dan Tashbih" - Penulis mempunyai buku seorang alim Al-Azhari yang mengarang kitab menolak kitab tersebut):
mempunyai gusi (اللثة) dan gigi gerham (الأضراس)
akan "duduk" bersama Nabi Muhammad SAW di atas arash mempunyai mulut (الفم)

2.Tafwidh yang digembar-gemburkan oleh mereka adalah bersalahan dengan tafwidh yang dipegang oleh ulama’ Asha’irah.

3.Memahami ayat-ayat mutashabihat secara zahir tanpa huraian terperinci dari ulama’ mu’tabar

4.Menolak Asha’irah dan Maturidiyyah yang merupakan majoriti ulama’ Islam dalam perkara Aqidah

5.Sering mengkrititik Asha’irah bahkan sehingga mengkafirkan Asha’irah

6.Menyamakan Ashai’rah dengan Mu’tazilah dan Jahmiyyah atau Mua’ththilah dalam perkara mutashabihat

7.Menolak dan menganggap pengajian sifat 20 sebagai satu konsep yang bersumberkan falsafah Yunani dan Greek

8.Berselindung di sebalik mazhab Salaf

9.Golongan mereka ini dikenali sebagai al-Hashwiyyah, al-Karramiyyah, al-Mushabbihah, al-Mujassimah atau al-Jahwiyyah dikalangan ulama’ Ahli Sunnah wal Jama’ah

10.Sering menjaja kononnya Abu Hasan Al-Ash’ari telah kembali ke mazhab Salaf setelah bertaubat dari mazhab Asha’irah

11.Mendakwa kononnya ulama’ Asha’irah tidak betul-betul memahami fahaman Abu Hasan al-Asha’ri, bahkan sering mendakwa kononnya mereka adalah pengikut Imam Abu al-Hasan al-'Ash'ari yang sebenar. Sungguh lucu dakwaan sebegini.

12.Menolak ta’wil dalam bab Mutashabihat

13.Sering mendakwa bahawa ramai umat Islam telah jatuh ke kancah syirik

14.Mendakwa bahawa amalan memuliakan Rasulullah SAW boleh membawa kepada syirik

15.Tidak mengambil berat kesan-kesan sejarah para anbiya’, ulama’ dan solihin dengan dakwaan menghindari syirik

16.Kefahaman yang salah berkenaan syirik sehingga mudah menghukum orang sebagai membuat amalan syirik

17.Menolak tawassul, tabarruk dan istighathah dengan para anbiya’ serta solihin

18.Mengganggap tawassul, tabarruk dan istighathah sebagai sebagai cabang-cabang syirik

19.Memandang remeh karamah para awliya’

20. Menyatakan bahawa ibu bapa dan datuk Rasulullah SAW tidak terselamat dari azab api neraka.

21. Mengharamkan mengucap "radiallahu anha" bagi ibu Rasulullah SAW, Sayyidatuna Aminah

22. Menamakan Malaikat Maut sebagai 'Izrail adalah bid'ah - Fatwa Soleh Uthaymin

SIKAP

1.Sering membid’ahkan amalan umat Islam bahkan sampai ke tahap mengkafirkan mereka

2.Mengganggap diri sebagai mujtahid atau berlagak sepertinya (walaupun tidak layak)

3.Sering mengambil hukum secara langsung dari al-Quran dan hadis (walaupun tidak layak)

4.Sering memperlekehkan ulama’ pondok dan golongan agama yang lain.

5.Ayat-ayat al-Quran dan Hadis yang ditujukan kepada orang kafir sering ditafsir ke atas orang Islam.

6.Memaksa orang lain berpegang dengan pendapat mereka walaupun pendapat itu shazz (janggal).

7. Bersikap "taqiyyah" apabila dirasakan perlu. Fatwa mereka berbeza apabila bercakap di hadapan masyarakat umum dengan pengajian khusus bersama mereka.

8. Apabila mereka sedikit dan tidak berkuasa, mereka melaungkan slogan "Berlapang dada", namun apabila mereka ramai dan berkuasa mereka melaungkan slogan "Meghilangkan Bid'ah" [Sikap ini diambil berdasarkan kata-kata para ulama' Mekah yang memerhatikan sikap Wahhabi di Mekah sewaktu ia mula-mula berkembang sampai kini.]

9. Apabila mereka menerima tentangan daripada majoriti ulama', mereka menyatakan itu adalah asam garam dalam perjuangan. Sedangkan para ulama' menyatakan bahawa apabila sesuatu itu ditolak olej majoriti para ulama', maka itu adalah tanda-tanda kesesatan, kepelikan dan kejanggalan (shazz) atau ketergelinciran (zallah) kerana para ulama' umat Nabi Muhammad SAW tidak akan bersepakat di dalam kesesatan sepertimana yang disebut di dalam hadis Rasulullah SAW.

CIRI CIRI GOLONGAN SALAFIYYAH WAHABIYYAH(WAHABI)...2

ULUM HADIS

1.Menolak beramal dengan hadis dhaif

2.Penilaian hadis yang tidak sama dengan ulama’ hadis yang lain

3.Mengagungkan Nasiruddin al-Albani di dalam bidang ini [walaupun beliau tidak mempunyai sanad bagi menyatakan siapakah guru-guru beliau dalam bidang hadis. Bahkan umum mengetahui bahawa beliau tidak mempunyai guru dalam bidang hadis dan diketahui bahawa beliau belajar hadis secara sendiri dan ilmu jarh dan ta’dil beliau adalah mengikut Imam al-Dhahabi].

4.Sering menganggap hadis dhaif sebagai hadis mawdhu’ [mereka melonggokkan hadis dhaif dan palsu di dalam satu kitab atau bab seolah-olah kedua-dua kategori hadis tersebut adalah sama]

5.Perbahasan hanya kepada sanad dan matan hadis, dan bukan pada makna hadis. Oleh kerana itu, perbincangan syawahid tidak diambil berat

6.Perbincangan hanya terhad kepada riwayah dan bukan dirayah.

ULUM QURAN

1.Menganggap tajwid sebagai menyusahkan dan tidak perlu (Sebahagian Wahhabi Malaysia yang jahil) [dan menurut sahabat penulis yang ada membuat penyelidikan di dalam bidang ini, sememangnya terdapat beberapa "ulama' Saudi" yang menyatakan tajwid itu bukanlah sunnah, tetapi bid'ah. Namun majoriti "ulama' Saudi" tidak bersetuju dengan kata-kata mereka].

2. Mendakwa ayat-ayat mutashabihat sebagai ayat muhkamat.

FIQH
1.Menolak fahaman bermazhab kepada imam-imam yang empat; pada hakikatnya mereka bermazhab “TANPA MAZHAB”

2.Mengadunkan amalan empat mazhab dan pendapat-pendapat lain sehingga membawa kepada talfiq yang haram

3.Memandang amalan bertaqlid sebagai bid’ah; kononnya mereka berittiba’

4.Sering mengungkit soal-soal khilafiyyah

5.Sering menggunakan dakwaan ijma’ ulama dalam masalah khilafiyyah
6.Sering bercanggah dengan ijma’ ulama’

7.Menganggap apa yang mereka amalkan adalah sunnah dan pendapat pihak lain adalah bid’ah

8.Sering mendakwa orang yang bermazhab sebagai taksub mazhab, sedangkan mereka taksub kepada Ibnu Taymiyyah, Ibnu al-Qayyim al-Jawziyyah dan Muhammad Ibn Abdul Wahhab.

9.Salah faham makna bid’ah yang menyebabkan mereka mudah membid’ahkan orang lain

10.Sering berhujah dengan al-tark, sedangkan al-tark bukanlah satu sumber hukum

11.Mempromosikan mazhab fiqh baru yang dinamakan sebagai Fiqh al-Taysir, Fiqh al-Dalil, Fiqh Musoffa, dll [yang jelas terkeluar daripada fiqh empat mazhab]

12.Sering mewar-warkan agar hukum ahkam fiqh dipermudahkan dengan menggunakan hadis “Yassiru wa la tunaffiru” sehingga menjadi lebih parah daripada tatabbu’ al-rukhas

13.Sering mengatakan bahawa fiqh empat mazhab telah ketinggalan zaman

Najis
1. Sebahagian daripada mereka sering mempertikaikan dalil bagi kedudukan babi sebagai najis mughallazah

2. Menyatakan bahawa bulu babi itu tidak najis kerana tidak ada darah yang mengalir.

Wudhu’ & Tayammum
1. Tidak menerima konsep air musta’mal

2. Bersentuhan lelaki dan perempuan tidak membatalkan wudhu’

3. Membasuh kedua belah telinga dengan air basuhan rambut dan tidak dengan air yang baru.

4. Kaifiyyat Tayammum yang mereka pilih ialah: Tepuk sekali dan sapu muka serta kedua pergelangan tangan sahaja (tanpa perlu sampai ke siku).

Azan
1. Azan juma’at sekali; azan kedua ditolak

CIRI CIRI GOLONGAN SALAFIYYAH WAHABIYYAH (WAHABI)...3

Solat

1. Mempromosi “Sifat Solat Nabi SAW’, dengan alasan kononnya solat berdasarkan fiqh mazhab adalah bukan sifat solat Nabi SAW yang sebenar

2. Menganggap lafaz usolli sebagai bid’ah yang keji

3. Berdiri secara terkangkang  ataupun seperti huruf Y terbalik yang menyalahi konsep berdiri secara iktidal (lurus dan sederhana)

4. Tidak membaca ‘Basmalah’ secara jahar

5. Menggangkat tangan sewaktu takbir pada paras bahu

6. Meletakkan tangan di atas dada sewaktu qiyam

7. Menganggap perbezaan antara lelaki dan perempuan dalam solat sebagai perkara bid’ah (sebahagian Wahhabiyyah Malaysia yang jahil)

8. Menganggap qunut Subuh sebagai bid’ah

9. Menggangap penambahan “wa bihamdihi” pada tasbih ruku’ dan sujud adalah bid’ah

10. Menganggap menyapu muka selepas solat sebagai bid’ah - Fatwa Soleh Uthaymin

11. Solat tarawih hanya 8 rakaat; yang lebih teruk lagi, mengatakan solat tarawih itu sebenarnya adalah solat malam (solatul-lail) seperti yang dibuat pada malam-malam biasa.

12. Zikir jahar di antara rakaat-rakaat solat tarawih dianggap bid’ah

13. Tidak ada qadha’ bagi solat yang sengaja ditinggalkan

14. Menganggap amalan bersalaman selepas solat adalah bid’ah - Fatwa Soleh Uthaymin

15. Menggangap lafaz sayyiduna (taswid) dalam solat sebagai bid’ah

16. Menggerak-gerakkan jari sewaktu tahiyyat awal dan akhir

17. Boleh jama’ dan qasar walaupun kurang dari dua marhalah

18. Memakai jubah dengan singkat yang melampau

19. Menolak sembahyang sunat qabliyyah sebelum Jumaat

20. Menolak konsep sembahyang menghormati waktu [li hurmah al-waqt]

21. Menolak konsep fidyah sembahyang walaupun umum mengetahui ia adalah pendapat mazhab Hanafi dan pendapat dhaif di dalam mazhab Shafie.

Doa, Zikir dan Bacaan al-Quran

1. Menggangap doa beramai-ramai selepas solat sebagai bid’ah

2. Menganggap zikir dan wirid beramai-ramai selepas sembahyang atau pada bila-bila masa sebagai bid’ah

3. Mengatakan bahawa membaca “Sodaqallahul-‘azim” selepas bacaan al-Quran adalah bid’ah - Fatwa Ibn Baz

4. Menyatakan bahawa doa, zikir dan selawat yang tidak ada dalam al-Quran dan Hadis sebagai bid’ah. Sebagai contoh mereka menolak Dala’il al-Khayrat, Selawat al-Syifa’, al-Munjiyah, al-Fatih, Nur al-Anwar, al-Taj, dll, bahkan dikatakan semua itu bertentengan dengan Aqidah Islam

5. Menganggap amalan bacaan Yasin pada malam Jumaat sebagai bid’ah yang haram - dengan alasan "Jangan diiktikadkan wajib"

6. Mengatakan bahawa sedekah atau pahala tidak sampai kepada orang yang telah wafat

7. Mengganggap penggunaan tasbih adalah bid’ah

8. Mengganggap zikir dengan bilangan tertentu seperti 1000 (seribu), 10,000 (sepuluh ribu), dll sebagai bid’ah, tetapi kalau tidak berzikir atau lalai (al-ghaflah) tak mengapa pulak??!!!

9. Menolak amalan ruqiyyah shar’iyyah dalam perubatan Islam seperti wafa’, azimat, dll

10. Menolak zikir isim mufrad: Allah Allah

11. Melihat bacaan Yasin pada malam nisfu Sya’ban sebagai bid’ah yang haram

12. Sering menafikan dan mempertikaikan keistimewaan bulan Rajab dan Sya’ban

13. Sering mengkritik kelebihan malam Nisfu Sya’ban

14. Mengangkat tangan sewaktu berdoa’ adalah bid’ah

15. Mempertikaikan kedudukan solat sunat tasbih

16. Berusaha mengharamkan wirid-wirid yang terkandung di dalam "Majmu' Sharif."

17. Menyatakan bahawa mencium al-Quran adalah bid'ah terkeji  - Fatwa Soleh Uthaymin

Pengurusan Jenazah dan Kubur

1. Menganggap amalan menziarahi maqam Rasulullah SAW, para anbiya’, awliya’, ulama’ dan solihin sebagai bid’ah dan solat tidak boleh dijama’ atau qasar dalam ziarah seperti ini

2. Mengharamkan wanita menziarahi kubur

3. Menganggap talqin sebagai bid’ah

4. Mengganggap amalan tahlil dan bacaan Yasin bagi kenduri arwah sebagai bid’ah yang haram

5. Tidak membaca doa’ selepas solat jenazah

6. Sebahagian ulama’ mereka menyeru agar Maqam Rasulullah SAW dikeluarkan dari masjid nabawi atas alasan menjauhkan umat Islam dari syirik

7. Menganggap kubur yang bersebelahan dengan masjid adalah bid’ah yang haram

8. Doa dan bacaan al-Quran di perkuburan dianggap sebagai bid’ah.

CIRI CIRI SALAFIYYAH WAHABIYYAH (WAHABI)...4

Majlis Sambutan Beramai-ramai

1. Menolak sambutan Mawlid Nabi; bahkan menolak cuti sempena hari Mawlid Nabi; bahkan yang lebih teruk lagi menyamakan sambutan Mawlid Nabi dengan perayaan Kristian bagi nabi Isa a.s.

2. Menolak amalan marhaban

3. Menolak amalan barzanji.

4. Berdiri ketika bacaan mawlid adalah bid’ah

5. Menolak sambutan Ma’al Hijrah, Isra’ Mi’raj, dll.

Haji dan Umrah

1. Cuba mengalihkan "Maqam Ibrahim a.s." namun usaha tersebut telah dipatahkan oleh al-Marhum Sheikh Mutawalli Sha'rawi apabila beliau pergi bertemu dengan Raja Faisal ketika itu.

2. Menghilangkan tanda telaga zam-zam untuk dielak oleh orang yang bertawaf ketika bertawaf [Dengar khabar, sekarang tanda tersebut hendak dibuat semula]

3. Mengubah tempat sa'ie di antara Sofa dan Marwah yang mendapat tentangan ulama' Islam dari seluruh dunia [Terbaru - dan Khilafiyyah di antara para ulama' kontemporari].

4. Nama "Hajar Ismail" bagi bahagian sisi Ka'bah adalah bid'ah dan tidak harus - Fatwa Soleh Uthaymin

PEMBELAJARAN DAN PENGAJARAN

1. Ramai para professional menjadi ‘ustaz-ustaz’ mereka..Protaz(di Malaysia)

2. Ulama’ yang sering menjadi rujukan mereka adalah:

a. Ibnu Taymiyyah
b. Ibnu al-Qayyim
c. Muhammad Abdul Wahhab [Perbezaan yang ketara di antara pendekatan Ibnu Taymiyyah dan Muhammad Ibn Abdul Wahhab ialah: (i) Ibnu Taymiyyah tidak memaksa orang lain mengikut pendapatnya dengan pedang dan kuasa, ini adalah berbeza dengan pendekatan Muhammad Ibn Abdul Wahhab; (ii) Ibnu Taymiyyah juga tidak bersepakat dengan bukan Muslim untuk menjatuhkan saudara Islamnya]
d. "Sheikh" Abdul Aziz Ibn Bazz
e. Nasiruddin al-Albani
f. "Sheikh" Soleh Ibn Uthaimin

g. "Sheikh" Soleh Fawzan al-Fawzan [Secara peribadi, penulis mendengar dengan telinga dan melihat dengan mata sendiri di Madinah, Dr. Soleh Fawzan al-Fawzan, Rektor, Universiti Islam Madinah pada waktu tersebut menyatakan bahawa ulama' Al-Asha'irah dan al-Maturidiyyah bukanlah daripada "golongan yang terselamat dari api neraka" (al-firqah al-najiyah)."]

3. Sering mewar-warkan untuk kembali kepada al-Quran dan Hadis (tanpa menyebut para ulama’, sedangkan al-Quran dan Hadis sampai kepada umat Islam melalui para ulama’ dan para ulama’ jua yang memelihara al-Quran dan Hadis untuk umat ini)

4. Sering mengkritik Imam al-Ghazali dan kitab “Ihya’ Ulumiddin”

5. Masih lagi menggunakan kitab al-Tawhid oleh Imam Ibnu Khuzaimah walaupun Imam al-Bayhaqi telah menyatakan bahawa Imam Ibnu Khuzaimah telah pun menarik semula dan bertaubat daripada penulisannya itu. Ini dinyatakan oleh Imam al-Bayhaqi di dalam Kitab al-Asma' dan al-Sifat.

PENGKHIANATAN MEREKA KEPADA UMAT ISLAM

1. Bersepakat dengan Inggeris dalam menjatuhkan kerajaan Islam Turki Usmaniyyah

2. Melakukan perubahan kepada kitab-kitab turath yang tidak sehaluan dengan mereka

3. Ramai ulama’ dan umat Islam dibunuh sewaktu kebangkitan mereka

4. Memusnahkan sebahagian besar kesan-kesan sejarah Islam seperti tempat lahir Rasulullah saw, jannat al-Baqi’ dan al-Ma’la [makam para isteri Rasulullah SAW di Baqi’, Madinah dan Ma’la, Mekah], tempat lahir Sayyiduna Abu Bakr dll, dengan hujah perkara tersebut boleh membawa kepada syirik.

5. Di Malaysia, sebahagian mereka dahulu dikenali sebagai Kaum Muda atau Mudah [kerana hukum fiqh mereka yang mudah, ia merupakan bentuk ketaatan bercampur dengan kehendak hawa nafsu].

6. Antara nama/seruan yang pernah digunakan/dilaungkan oleh mereka di Malaysia dahulu ini ialah Ittiba’ Sunnah. Pihak Jawatankuasa Fatwa Kebangsaan Kali Ke-14 yang bersidang pada 22-23 Oktober 1985 telah pun mengeluarkan fatwa menyatakan kesesatan ajaran Ittiba’ al-Sunnah ini.

TASAWWUF DAN TAREQAT

1. Sering mengkritik aliran Sufi dan kitab-kitab sufi yang mu’tabar

2. Sufiyyah dianggap sebagai terkesan dengan ajaran Budha dan Nasrani

3. Tidak dapat membezakan antara amalan sufi yang benar dan amalan bathiniyyah yang sesat

Perhatian:

Sebahagian daripada ciri-ciri di atas adalah perkara khilafiyyah. Namun sebahagiannya adalah bercanggah dengan ijma’ dan pendapat mu’tamad empat mazhab. Sebahagian yang lain adalah perkara yang sangat kritikal dalam masalah usul (pokok) dan patut dipandang dengan serius.Ini adalah sebahagian daripada ciri-ciri umum golongan Wahhabiyyah yang secara sedar atau tidak diamalkan dalam masyarakat kita. Sebahagian daripada ciri-ciri ini adalah disepakati di antara mereka dan sebahagiannya tidak disepakati oleh mereka. Ini adalah kerana di dalam golongan Wahhabiyyah ada berbagai-bagai pendapat dan mazhab dalam berbagai peringkat. Apatah lagi apabila setiap tokoh Wahhabiyyah cuba berijtihad dan mengenengahkanb pendapat masing-masing sehingga sebahagiannya terpesong terlalu jauh dari aliran Ahlus-Sunnah