Saturday, August 12, 2017

RAHASIA DZIKIR KHATM KHWAJAGAN

RAHASIA DZIKIR KHATM KHWAJAGAN

Maqaam itu sekarang, tempat ini sekarang menjadi sebuah maqaam di mana nuur muncul dari tempat ini hingga ke langit karena setiap orang bergabung dalam zikrullah, menjadi bagian dari zikir itu. Mereka akan dikenal dengan cahaya pada kening mereka bahwa mereka adalah orang-orang yang melakukan zikrullah di dunia, bahkan jika kalian melakukannya sekali sepanjang hidup kalian, kalian akan menjadi seorang dzaakir.  Bahkan jika ada seseorang yang datang dan duduk bersama kalian selama lima menit karena ada suatu keperluan dengan orang yang berada di sini, kemudian ia pergi, ia juga akan dianggap sebagai dzaakir oleh Allah, itulah sebabnya kita harus mengucapkan alhamdulillah dan asy-syukur lillah.
Mengapa dalam zikrullah dimulai dengan syahadat?  Itu adalah seperti orang yang mandi, membersihkan diri.  Syahadat membersihkan segala sesuatu, jadi kita mulai dengan mengucapkan asyhadu an la ilaha ill 'Llah wa asyhadu anna Muhammadan rasuulullah (s), dengan mandi itu kalian akan menjadi bersih.  Setelah itu kalian membaca istighfaar, Allah akan mengampuni kalian.
Kemudian kalian membaca Surat al-Fatiha, sekarang kalian memasuki rahasia kitab suci al-Qur’an dan malaikat membukakan bagi kalian untuk menyelam ke dalam samudra rahasia al-Qur’an. Dan kalian membaca Surat al-Fatihah sebanyak tujuh kali.  Mengapa bukan sepuluh?  Mengapa bukan sekali?  Tujuh kali karena ada tujuh ayat di dalam Surat al-Fatihah dan, saba` matsaani, untuk itulah kita membacanya tujuh kali, dan itu adalah kunci-kunci bagi ketujuh langit.  Jadi, satu, dua,…. Tujuh.  Kalian akan diberi kunci dari ketujuh ayat yang merupakan pembuka bagi ketujuh langit.  Jadi dengan berkah dari syuyukh kita, Allah membukakan bagi kita hakikat dari semua ini dan meneruskannya dari langit pertama hingga langit ketujuh dan tidak keluar lagi dari sana sampai Hari Kiamat.
Kemudian apa lagi yang kita baca?  Kita membaca 10 shalawat.  Segala sesuatu kalian harus membungkusnya dengan shalawat.  Setiap amal yang kalian lakukan, kalian harus menyebutkan Nabi (s) dengan demikian itu akan aman. Tidak ada yang dapat menyentuhnya, segera setelah kalian menyebutkan Nabi (s), Setan akan pergi.  Jadi 10 shalawat adalah untuk membungkus syahadat, istighfar dan Surat al-Fatiha, itu akan dimasukkan ke dalam kotak penyimpanan untuk Hari Kiamat.  Nabi (s) akan menjaganya untuk kalian.
Kemudian kalian membaca alam nashrah laka shadrak, bukankah Kami telah melapangkan dadamu ya Muhammad?  Dan Kami akan terus memberi padamu hingga engkau berkata, “Ya, aku senang.”  Apakah Nabi (s) akan mengatakan, “Aku senang”?  Tidak!  Beliau akan terus meminta dan meminta, tidak pernah berhenti karena apapun yang Allah berikan, beliau (s) akan memberikannya kepada umatnya.  Wa wadha`naa `anka wizrak, dan kemudian Kami ambil wizr bebanmu, seluruh dosa kalian telah dihapuskan.
Kemudian Surat al-Ikhlash, setelah kalian dibersihkan, kalian membaca Surat al-Insyiraah, alam nashrah laka shadrak wa wadha`naa `anka wizrak, alladzii anqadha zhahrak, ketika Kami hilangkan beban berat berupa dosa-dosa, maka kalian dapat memasuki Samudra Tawhiid, ketika kalian mengucapkan, “asyhadu an la ilaha ill 'Llah wa asyhadu anna Muhammadan rasuulullah (s), kalian melihatnya dari level tersebut, dunia telah lenyap, setelah kalian dibersihkan dengan membaca Khatm al-Khawajagan dan ini adalah ringksan pendek dari rahasia Khatm al-Khawajagan.
Ketika kalian telah mencapai level fitrah itu dan kalian telah diangkat, dibukakan bagi kalian samudra Qul huw Allahu ahad, kalian menyelam dalam rahasia itu dan kalian akan merasakan hakikat Tawhiid, bukan lagi tawhiid imitasi, itu adalah tawhid yang sejati.  Kemudian kalian membaca lagi Surat al-Fatiha, tujuh kali, tetapi kali ini kalian membacanya pada level Tawhiid.  Yang pertama setelah istighfaar, kali ini setelah Tawhiid, yang pertama setelah tobat dan yang kedua membaca al-Fatihah dengan Hakikat Tawhiid.  Sekarang kalian memasuki tujuh langit, dengan ketujuh ayat ini dengan Tawhiid penuh, tidak ada lagi syirik di dalam kalbu kalian.
Kemudian apa lagi yang kalian baca?  Shalawat atas Nabi (s) untuk membungkus Surat al-Fatiha dan samudra Tawhiid yang telah Allah bukakan bagi kalian.  Kalian berada di suatu tempat dan tidak ada orang yang dapat mengeluarkan kalian.  Itu terbungkus hingga Hari Kiamat.  Itulah pentingnya Khatm al-Khawajagan, jadi kalian jangan sampai melewatkan Khatm, lakukan sekali seminggu, karena itu akan membersihkan kalian dan hakikat alam nasyrah laka sadhrak, rahasia Surat al-Fatihah akan dibukakan bagi kalian di masa mendatang, in-sya-Allah.  Jika kalian tidak mempunyai kendaraan untuk pergi ke zawiyah di mana mereka mengadakan Khatm al-Khawajagan, maka tinggallah di rumah dan lakukan zikir itu sendiri.

SEJARAH ZIKIR KHATM KHWAJAGAN

SEJARAH ZIKIR KHATM KHWAJAGAN

Ada kejadian ‘dibalik sejarah’ yang telah umum dikenal dalam tarikh Nabi Muhammad SAW.  Selama ini, yang dapat dikemukakan, yaitu semasa beliau Hijrah 1426 tahun yang lalu, ketika Beliau bersama Sayyidina Abu Bakr as Shiddiq sedang menyelamatkan diri dari kejaran orang kafir Quraisy, Sayyidina Abu Bakr sebagai ‘orang gurun’ sangat mengerti betul, bahwa tidak akan pernah ada suatu lobang bebatuan di pegunungan melainkan pasti ada ular berbisa tersembunyi di dalamnya. Demikianlah, tetkala Sayyidina Abu Bakr menyadari bahwa Rasulullah SAW. berkehendak untuk ‘sembuny’i ke dalam gua Tsur, maka Ia segera mendahului Beliau memasukinya, hendak berkhidmat menyediakan pahanya untuk jadi bantalan Rasulullah SAW. didalam gua Tsur - yang sesungguhnya terlampau kecil itu untuk dengan sempurna dapat menyimpan tubuh kedua Beliau-beliau -. Begitulah Rasulullah SAW. Merunduk Memasuki gua, dan mulai Meletakkan Kepalanya Yang Mulia di paha Abu Bakar, Sejatinya Abu Bakr sedang menutupi lobang yang dijumpai, dengan tapak kaki kanannya agar tidak akan ada seekor ularpun yang akan membahayakan Sang Kekasih Allah itu - ketika beliau nanti Memasukinya. Benarlah pertimbangan itu, begitu kaki kanan Abu Bakr menapak, segera terasa ada yang memagutnya, dan bisa pun mulai merembes kesekujur tubuhnya, namun ia tidak perduli, dan menahan pedih dengan sekuat daya, sekalipun keringat telah bercampur darah – Abu Bakr berkorban untuk memberi rasa tentram dan aman kepada Rosululloh SAW Kekasih Alloh Ta’ala - layaknya seekor induk ayam membela anaknya dari cengkraman elang.
Abu Bakr sangat hormat, sangat mencintai, dan tulus, serta rendah hati terhadap Rasulullah SAW. selain sedemikian mematuhinya, sekalipun berusia lebih tua. (Dalam kenyataan umum, dan pada dasarnya, Kejiwaan seperti ini memang dapat menumbuhkan adanya kekuatan yang amat tangguh pada pemiliknya untuk mampu menjalani kehidupan ini dengan tabah, dengan karakter yang manis, dengan akhlak yang cemerlang, dan pengabdian yang ‘menjanjikan’ maslahat, dan konstruktif buat orang banyak, yang akan mengantar yang bersangkutan kearah dapat meraih ridha Allah, keberuntungan akhirat, disamping kemuliaan di dunia ini sendiri).
Keringat Abu Bakrpun sudah mulai berbulir, dan mengalir sehingga ketika sedikit menetesi pipi Rasulullah SAW. Beliau Menjadi Terkejut Menyadari bahwa sesungguhnya sedang terjadi sesuatu. “Jangan menangis dan jangan takut, ya Abu Bakr, Allah beserta kita”, desis Rasulullah SAW. kepada Abu Bakr Shiddiq, karena diluar memang terdengar jelas suara pijakan tapak kaki para pelacak Quraisy. “Tidak” jawab Abu Bakr, dengan berdesis pula “ular sedang menggigit kakiku”, “masya Allah”, ujar Rasulullah SAW - dan karena bahaya di luar barusan berlalu pula, sepeninggal pasukan pelacak yang menganggap bahwa di Tsur sudah tidak ada lagi Nabi Muhammad SAW., padahal sesungguhnya, peristiwa ular menggigit tapak kaki Abu Bakr ini, dan sergapan orang-orang kafir dimulut goa Tsur, yang menegangkan itu, keduanya berlangsung adalah dalam waktu yang bersamaan, hanya ditabiri oleh selaput ‘cinta’ namun sangat luar biasa dari para burung dara, laba-laba, dan Sang Sahabat Abu Bakr Shiddiq itu sendiri, yang dengan begitu sempurna tertuju pada Sang Kekasih Allah Ta’ala, dan yang karena itu Alloh Berkenan Mengulurkan IradatNya.
Nabi Muhammadpun lalu tegak, Menarik kaki Abu Bakr, dan memang Beliau Menampak seekor ular dengan sinar mata yang sayu, berkaca-kaca menatap wajah beliau dengan penuh kecintaan, dan rindu. “Tahukah kamu”, tanya Rasulullah SAW. kepada ular, “jangankan daging ataupun kulit Abu Bakr, bulu-bulunya pun haram untuk kamu patuk”. “Tahu!”, jawab ular, “bahkan karena aku tahu juga, setelah Allah menitahkan : Barang siapa memandang wajah kekasih-Ku Muhammad dengan penuh kecintaan, maka akan Ku tempatkan dia disurga, akupun bermohon kepada Allah Ta’ala agar diberi keberuntungan dengan sempat mengalami hal seperti itu. Allah Ta’ala Berkenan, dan Menitahkan aku untuk menunggumu disini. Sudah ribuan tahun aku menunggu disini, dan amat merindukanmu wahai Kekasih Allah, begitu tiba saatnya aku menjumpaimu, kaki Abu Bakr menghalangiku, maka kupatuklah agar menyisih jangan menutupi mata kerinduanku padamu ya Rosulallah”. Ularpun menangis dan Rasulullah terharu seraya makin mengedepankan Wajah Hadirat Beliau, dan mengatakan. “Nih lihatlah, sekali lagi nih lihatlah, wahai kerinduan”. Syahdan pupuslah usia ular itu sesudah ia puas manatap hadirat wajah Rasulullah SAW. Sesaat sesudah itu, Beliau Meminta satu jin yang kebetulan berada disitu untuk menyelenggarakan jenazah ular yang pasti akan menghuni sorga itu, Sejurus kemudian, maka Rasulullah SAW Menengadahkan Tangan Beliau Yang Mulia ke atas, Memohon “Yaa Rabb, segala apa yang Engkau Limpahkan padaku mohon Limpahkanlah kedada Abu Bakr ini”, seraya memegang dada Sang Sahabat tercinta.
Serta merta beberapa saat sesudah itu, Beliau berdua diterpa oleh jejalan hadirnya para-arwah dari seluruh pecinta Rasulullah SAW. yang ikut memadati gua Tsur, baik dari yang belum terlahir sebagai jelma-manusia, yang telah terbungkus raga, maupun yang telah dahulu kala, dan kemudian bersama-sama melingkar, dan melantunkan ‘kalimah thayyibah’ serta meresapi cinta, dan rindu kepada Rasulullah didalam suatu dzikr, yang shighat (formulanya) kemudian disebut sebagai Khatm Khawajagan ini (circle dari orang-orang yang bersungguh melingkari, dan mencintai-mematuhi-berhidmat kepada Rasululloh SAW Yang ditugasi Allah Ta’ala untuk Merahmati kehidupan ini) dengan konduksi oleh Mawlana Syaikh Abdul Khaliq Al-Ghujduwani, yang ketika itu belum lagi terlahirkan kedunia fana ini. Peristiwa ini, tentu saja semakin menghunjamkan kecintaan Sayyidina Abu Bakr Ash-Shiddiq kepada Rosululloh SAW dengan semakin mantap, dan makin dalam. Semoga riak-gelombang keberuntungan seperti ini akan melimpah kepada kita semua, yang dengan taufiq-inayah Allah, Berkah Rasululloh, dan madad (bantuan-karamah-irsyad) para Auliyaa, dan Masyayikh kita mengamalkan dzikr ini. Amin.

Sheikh Fadhil Banten - Penyebar wirid Khaujakan di Johor

Sheikh Fadhil Banten - Penyebar wirid Khaujakan di Johor

APABILA riwayat Haji Abu Bakar bin Haji Hasan Muar tersiar dalam Ruangan Agama, Utusan Malaysia, penulis menerima panggilan daripada beberapa orang di Muar, antaranya Cikgu Haji Muhammad. Beliau menyatakan bahawa sezaman dengan ulama Muar itu ada lagi beberapa ulama yang sangat besar pengaruhnya dalam bidang kerohanian di kerajaan Johor, iaitu Syeikh Kiyai Haji Fadhil bin Haji Abu Bakar al-Banten.

Daripada hasil wawancara, sebuah buku berjudul Amalan Wirid Khaujakan dan Huraiannya, susunan Ustaz Haji Ahmad Tunggal diterbitkan oleh Badan Kebajikan Jamaah Khaujakan Johor Darul Takzim, serta beberapa catatan. Maka ulama berasal dari Banten yang menaburkan baktinya di Johor dapat diperkenalkan. Beliau lahir di Banten, Jawa Barat sekitar tahun 1287 Hijrah/1870 Masihi dan meninggal dunia di Bakri, Muar, Johor pada 29 Jamadilawal 1369 Hijrah/18 Mac 1950 Masihi, dikebumikan di Batu 28 Langa, Muar.

Sebelum riwayat ini diteruskan, dirasakan perlu menjelaskan nama `Banten' kerana ada orang memperkata bahawa ulama yang diceritakan ini berasal dari `Bentan'. Hal ini terjadi hanyalah kerana ada orang yang tidak dapat membezakan antara Banten dengan Bentan. Banten, kadang-kadang disebut juga dengan Bantan, kadang-kadang Bantam. Banten pada zaman dulu mempunyai kerajaan sendiri. Setelah Indonesia merdeka ia dimasukkan ke dalam Propinsi Jawa Barat dan setelah reformasi, menjadi propinsi sendiri yang dinamakan Propinsi Banten.

Ada pun Bentan adalah sebuah pulau di Kepulauan Riau, yang kedua terbesar sesudah Pulau Natuna. Bentan sangat penting dalam sejarah dan geografi, sama ada zaman kerajaan Melaka mahu pun zaman pembentukan kerajaan Riau-Lingga-Johor dan Pahang dan takluknya, zaman Riau-Johor dan terakhir sekali menjadi Riau-Lingga.

Ulama yang dikisahkan ini berasal dari Banten bukan dari Bentan. Banten memang ramai melahirkan ulama yang terkenal, antara yang terkenal di seluruh dunia Islam ialah Syeikh Nawawi al-Bantani yang diakui oleh dunia Islam dengan gelar Imam Nawawi ats-Tsani (Imam Nawawi yang ke-2). Sedang dari Bentan hingga kini belum diketahui nama ulamanya, yang ada hanyalah ulama Riau yang berasal dari pulau-pulau lainnya. Antara ulama Riau yang mengajar di Mekah peringkat guru pada Fadhil ialah Syeikh Ahmad bin Muhammad Yunus Lingga .

PENDIDIKAN

Selain mendapat pendidikan dari kalangan keluarga sendiri, Fadhil juga memasuki pelbagai pondok pengajian di Banten. Sekitar usia tiga puluhan, barulah beliau melanjutkan pendidikannya di Mekah.

Sewaktu masih berada di Banten lagi, Fadhil telah mengenal beberapa thariqat yang berada di Banten, antaranya ialah Thariqat Qadiriyah yang tersebar di seluruh Jawa yang dibawa oleh murid-murid Syeikh Ahmad Khathib bin Abdul Ghaffar Sambas (lahir 1217 Hijrah/ 1802 Masihi, wafat 1289 Hijrah/1872 Masihi). Salah seorang khalifahnya yang paling terkenal, yang berasal dari Banten ialah Syeikh Abdul Karim al-Bantani (wafat 18 Safar 1315 Hijrah/19 Julai 1897 Masihi). Thariqat Naqsyabandiyah yang tersebar di Banten juga berasal daripada ulama Sambas tersebut melalui Syeikh Abdul Karim al-Bantani. Oleh itu dipercayai bahawa Fadhil telah ditawajjuh dengan kedua-dua thariqat tersebut oleh Syeikh Abdul Karim al-Bantani, ulama Banten yang sangat terkenal itu.

Setelah berada di Mekah, Fadhil menerima pula Thariqat Tijaniyah, walau bagaimana pun tidak jelas daripada siapa beliau menerima thariqat itu. Selain belajar, di Mekah beliau membantu saudara sepupunya Hajah Halimah mengurus jemaah haji.

DATANG KE JOHOR

Penghulu Mukim Langa bernama Haji Daud sangat tertarik pada keperibadian, keilmuan dan kerohanian yang ada pada Fadhil, maka penghulu itu berusaha memujuk ulama yang berasal dari Banten ini supaya datang ke Johor. Akhirnya hasrat Daud tercapai juga. Maka dalam tahun 1915 Masihi, Fadhil Banten sampai di Johor. Beliau mengajar di Kampung Langa, Muar. Selain pelbagai ilmu Islam yang asas seperti fardu ain, Fadhil lebih menekankan Wirid Khaujakan atau Khatam Khaujakan yang sangat terkenal dalam ajaran Thariqat Qadiriyah dan Thariqat Naqsyabandiyah.

Fadhil melebarkan sayap dakwahnya bukan hanya di Kampung Langa tetapi juga termasuk dalam Bandar Maharani (Muar), Bakri, Bukit Kepong dan tempat-tempat lainnya. Pendek kata banyak surau dan masjid yang menjadi tempat beliau mengajar. Ajaran beliau dapat diterima oleh semua pihak termasuk Sultan Johor.

SULTAN JOHOR PERLU PERTOLONGAN

Perang dunia kedua meletus antara tahun 1939 hingga tahun 1945. Dalam masa darurat itulah Sultan Ibrahim, Sultan Johor merasa perlu menyelamatkan Kerajaan Johor, termasuk diri peribadi dan keluarganya dengan apa cara sekali pun. Atas nasihat beberapa insan yang arif, baginda mendekati seorang ulama sufi yang sangat mustajab doanya. Ulama yang dimaksudkan Syeikh Fadhil. Beliau tidak perlu didatangkan dari luar kerana beliau memang telah bermustautin di Johor. Baginda menitahkan Datuk Othman Buang, Pegawai Daerah Muar ketika itu untuk mencari dan menjemput ulama sufi itu datang ke istana baginda.

Hajat Sultan Ibrahim itu dipersetujui oleh Syeikh Fadhil, namun walaupun sultan telah menyediakan sebuah rumah dekat dengan istana di Pasir Pelangi tetapi beliau lebih suka tinggal di Masjid Pasir Pelangi. Pada waktu malam beliau hadir di sebelah bilik peraduan Sultan Ibrahim membaca wirid untuk menjaga keselamatan sultan. Walau bagaimana pun untuk lebih mudah melakukan pelbagai amalan wirid dan munajat kepada Allah, beliau memilih masjid yang lebih banyak berkatnya dari rumah. Oleh itu Fadhil lebih banyak melakukannya di dalam masjid.

Akhirnya Sultan Ibrahim memperoleh ketenangan jiwa kerana keberkesanan dan keberkatan doa Syeikh Fadhil. Selanjutnya perang dunia kedua selesai dan baginda memberikan anugerah kepada ulama sufi tersebut. Ustaz Haji Ahmad Tunggal dalam bukunya menyebut, ``Sultan telah menganugerahkan pangkat kepada Haji Fadhil, iaitu ia dilantik sebagai Mufti Peribadi Sultan. Jawatan ini berbeza dengan Mufti Kerajaan. Mufti Peribadi adalah bertanggungjawab kepada sultan. Ia memberi nasihat dan fatwa jika dikehendaki oleh sultan.''

Selain anugerah yang berupa kedudukan itu, Sultan Ibrahim juga membiayai Fadhil dan isterinya menunaikan ibadah haji, dan memberikan hadiah-hadiah yang tidak terkira besar dan banyaknya. Sumbangan yang tiada terhingga besarnya kepada Sultan Ibrahim ialah beliau telah membuka pintu kebebasan seluas-luasnya kepada Kiyai Syeikh Fadhil untuk menubuhkan kumpulan-kumpulan Wirid Khaujakan di seluruh Kerajaan Johor tanpa sebarang halangan.

Berdasarkan tulisan Ustaz Haji Ahmad Tunggal, peringkat awal pembentukan kumpulan tersebut di Pontian diketuai oleh Haji Ahmad Syah. Di Batu Pahat oleh Kiyai Saleh. Di Muar oleh Haji Abdul Majid dan di Mersing oleh Haji Siraj bin Marzuki.

KETURUNAN DAN MURID

Daripada isteri yang pertama, Syeikh Fadhil memperoleh empat orang anak; seorang lelaki dan tiga perempuan. Anak lelakinya ialah Orang Kaya Penghulu Haji Abdul Hamid. Setelah isteri pertamanya meninggal dunia, beliau pindah ke Bandar Muar dan berkahwin lagi dengan seorang janda beranak dua. Kedua-duanya ialah Haji Othman bin Haji Azhari dan Haji Ali bin Haji Azhari yang meneruskan perjuangan Syeikh Fadhil.

Antara murid Syeikh Fadhil ialah Sahibus Samahah Haji Ahmad Awang yang pernah menjadi Mufti Kerajaan Johor. Murid dan anak tirinya, Haji Othman Azhari, dalam buku Amalan Wirid Khaujakan dan Huraiannya, pada tahun 1994 adalah sebagai Yang Dipertua Badan Kebajikan Jamaah Khaujakan, dan ramai lagi.

Daripada buku Amalan Wirid Khaujakan dan Huraiannya oleh Ustaz Ahmad Tunggal yang memperoleh pendidikan di Universiti Al-Azhar, Mesir itu banyak perkara yang dapat kita ketahui. Antaranya bahawa terasasnya Badan Kebajikan Jamaah Khaujakan yang sangat meluas di seluruh Johor adalah bermula daripada Syeikh Fadhil. Amalan Wirid Khaujakan masih subur dan berkesinambungan di Johor seperti juga di beberapa tempat lain di seluruh dunia Islam.

Pada pandangan penulis, walaupun ada golongan anti amalan sufi yang menuduh bahawa orang-orang sufi mengamalkan perkara-perkara bidaah dan khurafat, tuduhan melulu seperti itu tidak berasas sama sekali kerana Wirid Khaujakan dan beberapa amalan golongan sufi selainnya juga bersumberkan al- Quran dan as-sunah. Mereka yang beramal dengannya bukan terdiri daripada golongan awam saja tetapi juga termasuk ulama-ulama besar terkenal yang mampu membahas al-Quran dan hadis. Ia bukan diamalkan oleh orang-orang di dunia Melayu sahaja tetapi juga di tempat-tempat dalam belahan dunia.

Penulis tidak sependapat dengan beberapa pandangan yang menuduh bahawa apabila beramal mengikut sufi mengakibatkan ketinggalan dalam membina kemajuan duniawi, kerana ternyata tidak sedikit golongan sufi yang menghasilkan karya, mencetuskan pemikiran yang bernas maju, menghasilkan sesuatu pemikiran baru pada setiap zaman dan lain-lain.

Kebijakan Sultan Ibrahim yang memahami keadaan zaman darurat menghadapi huru-hara perang dunia kedua yang sukar diatasi dalam bentuk zahiri semata-mata, sehingga baginda memerlukan insan takwa seperti Syeikh Fadhil, patut dicontohi oleh pemimpin-pemimpin kita masa kini dan zaman-zaman yang akan datang. Setelah kita mengetahui dalam dunia sekarang bahawa nyawa seolah-olah tiada harganya, situasi dunia yang tiada ketentuannya, termasuk dunia Melayu juga, maka patutlah umat Islam Melayu memperbanyak zikir, wirid, selawat dan lain-lain sejenisnya demi kebaikan dan ketahanan diri Muslimin dan dunia Melayu sejagat.